TV Bagian Dari Kekerasan Itu!

Aksi Unjuk Rasa mahasiswa di Jakarta yang terjadi belakangan ini menjadi topik terhangat di media khususnya televisi. Pembakaran mobil plat merah, aksi kejar-kejaran polisi dan mahasiswa, pembobolan pagar kantor DPR hingga penyelidikan desainer unjuk rasa.

Sayangnya media televisi hanya mengekplorasi issu ini tanpa memperhatikan efek citra yang kelak merugikan pihak pengunjuk rasa. Media televisi ternyata hanya memotret atau merekam KEKERASAN nya saja. Tanpa mengeksplorasi bagian-bagian lain yang justru bisa lebih berimbang mungkin tentang Kinerja DPR menyangkut BBM, POLISI dan sistem pengamanan unjuk rasa dan kelanjutan kasus kematian mahasiswa UNAS.

Seolah-olah kekerasan dalam berunjuk rasa adalah hal yang baru dan spektakuler. Media televisi dalam hal ini wartawan dan pimpinan redaksi liputan begitu kegirangan mendapatkan gambar yang diyakini bisa “menjual” tontonan.

Tak bisa dipungkiri jika tipikal masyarakat senang dengan siaran kekerasan. tapi logika televisi kapitalis memperteguh karena memahami berita seperti ini mengibur. Entah sadar atau tidak Media Televisi telah merekonstruksi sebuah realitas, setting citra relasi antara MAHASISWA dan KEKERASAN langsung saja melekat sebab khalayak menginternalisasi dengan mudahnya karena disuguhi berkali-kali dalam sehari bahkan dalam seminggu.

Heriyanto dalam buku analisis wacananya memakai istilah representasi dalam kasus pemberitaan media. pemakaian kosakata dalam judul berita atau isi berita merepresentasikan seseorang atau kelompok dalam tindakannya terhadap sesuatu sementara kelompok lain bisa saja lepas dari konsentrasi berita dan luput dari pencitraan dan ini adalah ketidakadilan.

Media televisi secara tidak langsung melakukan defenisi dengan judul berita atau isi berita yang di dominasi kata KEKERASAN/MAHASISWA. Padahal KEKERASAN dan MAHASISWA tidaklah berdiri sendiri tanpa ada konteks yang melatarbelakangi sebuah peristiwa. masih banyak variabel lain dalam priinsip jurnalisme, tapi mengapa hanya KEKERASAN dan MAHASISWA yang dominan dalam sebuah berita?

Sekali lagi Media Televisi mengambil bagian dari kekerasan itu sendiri, tanpa disadari oleh massa khalayak penonton hanya dibodohi tak ada aspek pembelajaran yang jauh lebih penting dari sekedar mencitrakan mahasiswa sedemikian buruk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s