Krisis Energi adalah Tragedi

Oleh: Arsyi Pamma

Komisi Ekonomi DPD KNPI Kab.Kolaka

Energi minyak salah satu energi yang paling rentan mengalami krisis. Tak ada negara satupun di dunia ini yang lepas dari kebutuhan yang satu ini. Sementara itu tidak semua negara memiliki ketersediaan kandungan minyak. sehigga meniscayakan pembelian dari luar negeri dengan import. Indonesia sendiri memiliki kandungan dan juga melakukan ekplorasi dan produksi namun jumlah barrel perharinya tidak mampu menyuplai seluruh kebutuhan seantero nusantara yang begitu tinggi. Alhasil,import minyak mentah tak dapat di hindari.

Harga minyak mentah dari $75/barrel terus melaju ke angka $125/barrel dan diprediksi akan menembus $200/barrel. angka yang sangat fantastis. Badai resesi dan inflasi akan menghempas, saya tidak yakin hal ini bisa dihindari, namun apabila pemerintah lebih jeli dalam mengambil kebijakan maka sangat memungkinkan APBN negara kita mampu menopang penderitaan rakyatnya dalam jangka waktu yang lebih lama hingga pasar dunia kembali stabil.

Ada beberapa hal yang menurut hemat saya adalah indikator krisis energi minyak yang sangat mendasar. diantaranya adalah Nilai APBN negara telah terkerus untuk subsidi minyak tanpa pengimbangan income negara yang stabil pula. Negara menjadi boros, kebocoran pada sektor BUMN, kebocoran pada sektor pajak, dan royalti usaha pertambangan diseluruh provinsi yang terlalu rendah. Dari sekian banyak usaha yang sebenarnya mampu menyehatkan APBN kita yang terbebani oleh pembelian Minyak mentah secara import. menjadi tidak berarti apa-apa.

kebijakan subsidi energi menjadi paradoks karena ketidaktepatan pemerintah dalam mengorganisir dan memetakan struktur kelas masyarakat. ini menyebabkan kebocoran APBN yang sangat besar setiap harinya tanpa ada yang bisa disalahkan kecuali pemerintah eksekutif. di era sekarang ini, kabinet SBY mengambil kebijakan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang ternyata tidak menyelesaikan masalah, malah semakin memupuk konflik di masyarakat yang tidak mampu. dan ini adalah candu baru dimana banyak yang akan berpura-pura tidak mampu dan ikut menikmati BLT.

Selain itu, belakangan ini ketika pengumuman akan adanya kenaikan harga BBM, wapres yusuf kalla mencoba menenangkan resistensi masyarakat dengan mengatakan, “menolak kenaikan BBM maka menguntungkan orang kaya. Secara sublim, ini adalah bentuk kemalasan kolektif pemerintah dalam menanggulangi penderitaan masyarakat dengan menjadikan orang kaya sebagai kambing hitam (blame victim).

Toh kalau orang kaya menikmati subsidi karena mereka menyetor segala bentuk pajak dan retribusi yang tidak dibebankan oleh masyarakat tidak mampu. jadi menurut saya itu sudah cukup sebagai kompensasi imbang.

yang kedua, Disparitas harga BBM industri nonsubsidi dengan BBM masyarakat bersubsidi terlalu tinggi, sehingga para spekulan dan penyelundup terangsang untuk mendapatkan profit haram yang menimbulkan kelangkaan. efek kebocoran APBN adalah ketika negara telah menekan harga dengan subsidi kepada masyarakat, sementara para spekulan membeli lalu menjual kembali dengan harga BBM non bersubsidi kepada industri.

yang ketiga adalah, upaya pengalihan energi alternatif yang bisa menekan konsumsi bahan bakar minyak belum maksimal. penulis tidak menutup mata, ketika kabinet SBY “memaksa” masyarakat meninggalkan minyak tanah menuju GAS elpiji, tapi sayang, kebijakan ini semu dan tidak jangka panjang. karena GAS elpiji pun rentan spekulan dan penimbunan.

seharusnya ada program percepatan pembangunan infastruktur energi alternatif yang betul-betul murah, efisien dan stabil. mungkin salah satunya adalah penggunaan energi nuklir. Dengan penggunaan energi nuklir. meski BBM tak dapat di hindari secara total namun dengan adanya alternatif, maka kebutuhan akan BBM turun drastis yang artinya negara kita tidak lagi aktiv mengkonsumi minyak dari luar.

penekanan yang paling penting dari segala analsis saya adalah pemerintah kita malas dan mungkin bahkan tidak cakap dalam memperbaiki segala bentuk kebocoran pendapatan negara. termasuk upgrading produksi di kilang-kilang minyak dalam negeri yang tentunya mampu menekan pembelian import minyak mentah dunia.

kalau pemerintah tidak mau berpikir dan bertindak lebih cepat dalam menanggulangi krisis energi khususnya minyak. maka rakyat akan jadi taruhan. Chaos dan konflik dan patologi sosial akan meningkat secara tajam sebagai impact dari krisis energi.

dan kita tunggu saja negara akan berutang terus menerus tanpa malu. dan menjadikan kita semua menjadi agunan. sungguh ironis, negara berkembang akan kembali berutang dan terus menjadi lingkaran setan. inilah tragedi yang saya maksud.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s