]]IndiPress[[

Not For Sale

Arsip untuk ‘Pilkada’ Kategori

Melacak makna Incumbent

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Mei 24, 2008

Secara harfiah Incumbent berasal dari bahasa latin yang bermakna “bukti”, saya belum sempat melihat di kamus atau mesin pencari seperti google, saya hanya mengingat dalam salah satu istilah dalam ilmu logika bahwa incumbent artinya bukti. Incumbent dalam istilah politik khususnya pilkada mulai sering saya mendengarnya ketika sesi plikada di kolaka tempat saya bermukim akan dilangsungkan. Salah seorang teman menjelaskan bahwa incumbent adalah posisi seseorang yang sedang menjabat sebagai kepala daerah dan hendak ikut dalam pilkada.

dengan istilah incumbent yang bermakna “bukti” maka saya menyimpulkan secara sederhana bahwa incumbent adalah calon kepala daerah yang telah terbukti. penyifatan selanjutnya tergantung bagaimana selama dia menjabat sebagai bupati. terbukti gagalkah, sukseskah atau mungkin terbukti korupsi. incumbent masih dalam tataran makna yang netral, nanti ketika kita kaitkan dengan siapa calon kepala daerah incumbent yang dimaksud maka silahkan menentukan incumbentnya sukses atau incumbent gagal.

Peluang Incumbent untuk menjadi pemenang dalam setiap pilkada memang memberi ruang yang besar. Dari pengamat politik hingga tukang cukur tahu bahwa incumbent 50% sudah menang. Pemanfaatan agenda dan fasilitas pemerintahan sangat memungkinkan untuk mendapatkan popularitas jauh lebih besar di bandingkan calon-calon lainnya. Bila ada incumbent yang kalah di suatu daerah saya pikir itu adalah petaka. tidak perlu memakai indikator yang ruwet runyam sehingga orang atau kelompok yang tidak berani mengambil resiko cenderung memilih ikut menjadi tim incumbent.

Agar tidak ada calon lain yang akan merasa dirugikan, dalam Peraturan Pemerintah No. 06 Tahun 2005 adalah secara tegas mengatur bagi setiap Kepala Dareah dan/atau Wakil Kepala Daerah yang ikut dalam pemilihan Kepala Daerah dan/atau Wakil Kepala Daerah dalam PILKADA wajib mengundurkan diri terhitung sejak 6 (enam) bulan sebelum masa jabatannya berakhir. Jadi apabila tanggal pelaksanaan PILKADA Kab. Kolaka ditetapkan pada tanggal 23 Oktober 2008 maka seharusnya Incumbet sudah harus mengundurkan diri pada tanggal 23 Mei 2008.

Dengan terlaksananya ketentuan ini tentunya menghilangkan rasa diskriminasi diantara calon-calon lain yang akan ikut berlaga dalam pilkada. Pilkada damai adalah impian kita semua.
Cat. Tulisan ini belum selesai.

Ditulis dalam Opini, Pilkada | Leave a Comment »

Ketika Incumbent Dicukur

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Mei 23, 2008

Dalam musim Pilkada sekarang ini, kita punya satu istilah populer, incumbent. Apa atau siapa itu incumbent? Orang Inggris bilang yaitu orang yang sedang memegang jabatan.
Dalam Pilkada (juga Pilpres) yang dimaksud incumbent ialah orang yang sedang memegang jabatan (bupati, walikota, gubernur, presiden) yang ikut pemilihan agar dipilih kembali pada jabatan itu.

Alkisah di sebuah kabupaten, rakyatnya disibukkan oleh pilkada. Beberapa pasangan calon bupati bertarung, termasuk incumbent.

Agar penampilan lebih menarik, menjelang masuk hari-hari kampanye, sang incumbent pergi ke tukang cukur. Sebenarnya Pak Incumbent atau kita singkatkan saja Pak Inc, kalau cukur biasanya pergi ke salon.

Tapi kali ini Pak Inc memilih ke tukang cukur biasa. Maksudnya, ingin manfaatkan waktu ketemu “rakyat kecil”, sekalian mau mengorek bagaimana gerangan pilihan orang kecil dan sekalian juga mau memanfaatkan kesempatan titip harapan.

Dalam musim pilkada, taktik seperti itu lumrah digunakan oleh para kandidat pilkada. Tiba-tiba mereka rajin ketemu rakyat, tebar senyum dan pesona, obral janji dan harapan, dan sebagainya.

Jika di luar musim pilkada mereka biasanya amat jarang hadir ketika diundang, maka dalam musim pilkada malah sebaliknya.

Andaikata ada acara sunatan monyet, asal banyak massanya, pasti mereka hadir. Bahkan jika perlu jadi sponsor atau penyandang dana. Asal saja, namanya jangan lupa disebut-sebut, dan lebih syukur lagi kalau diberi kesempatan memberi kata sambutan.

Ketika Pak Inc mulai dicukur, yang berceloteh duluan tukang cukur atau kita singkat saja Pak Cuk. Sambil menyisir dan menggunting rambut Pak Inc, Pak Cuk bertanya, “Siapa ya, kira-kira yang pantas dipilih dalam Pilkada jadi Pak Bupati?”

“Pilih saja yang sudah pengalaman,” ujar Pak Inc spontan memanfaatkan peluang.
Setelah mendengar jawaban Pak Inc, Pak Cuk diam dan terus mencukur. Tapi sesudah itu Pak Cuk bertanya lagi, “Siapa ya, kira-kira yang paling disenangi oleh rakyat untuk jadi bupati?”

Pak Inc malah balik bertanya, “Kalau menurut Pak Cuk sebagai rakyat, siapa yang disenangi rakyat?”

Pak Cuk tidak menjawab tapi batuk-batuk kecil mendengar pertanyaan itu. Dia tidak menduga munculnya pertanyaan balik itu.

Tapi berselang beberapa detik kemudian, Pak Cuk malah bertanya lagi. Kali ini pertanyaannya “tajam” seperti pisau cukur yang dia pegang. “Pak Inc, siapa ya yang pantas menggantikan bapak jadi bupati?”

Mendengar pertanyaan terakhir itu Pak Inc kumat “darah tingginya”. Telinganya merah, rambutnya berdiri, dan bertanya sengit, “Memangnya Pak Cuk tidak senang sama saya dan ingin saya diganti?”

Dengan tenang Pak Cuk menjawab, “Tidak Pak Inc, saya bukannya senang kalau bapak diganti. Bapak itu orang yang masih pantas jadi bupati, karena bapak punya perhatian terhadap orang kecil seperti saya.

Hanya saja, tadi, setiap saya tanya bapak soal calon lain, rambut bapak berdiri, jadinya saya makin mudah mencukur bapak. Apalagi dengan pertanyaan terakhir tadi, semua rambut bapak ikut berdiri, he… he… he…, maaf Pak Inc.”

Pak Cuk masih terus berceloteh, “Rupanya benar sekali kata kakek saya, tidak ada orang yang dengan suka hati mau digantikan kedudukannya atau dilengserkan dari kursi empuk jabatannya.

Manusia ingin kekal dengan apa yang dia senangi. Itu sebabnya, kakek dan nenek manusia dulu, Adam dan Hawa digoda iblis dengan pohon khuldi, pohon kekekalan.”

“Maaf ya Pak Inc, jangan marah! Pemimpin tidak boleh gampang marah. Nah sekarang rambutnya sudah rapi Pak Inc, rakyat pasti tambah senang melihat bapak kalau kampanye.

sumber:http://daengngirate.multiply.com

Ditulis dalam Pilkada | Leave a Comment »