]]IndiPress[[

Not For Sale

Arsip untuk ‘Hot News’ Kategori

Lebaran Usai, Linggis dan Sekop Mulai Diangkat

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Oktober 5, 2008

Jumat, 3 Oktober 2008 | 09:43 WIB

BOMBANA, JUMAT - Memasuki H+1 Idul Fitri 1429 Hijriah, pendulang emas dari berbagai daerah mulai berdatangan di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk mendulang emas.

Dari Kasipute, Bombana Jumat dilaporkan, warga dari luar Bombana tersebut datang dengan menggunakan kendaraan roda dua dan membawa berbagai perlengkapan mendulang seperti wajan, linggis dan sekop.

Selain itu, para pendulang juga membawa peralatan lain berupa tenda terpal ukuran 4X6 meter untuk digunakan sebagai tempat tinggal sementara serta bekal makanan seperti mie instan dan beras.

Warga yang berniat mendulang emas di daerah pemekaran dari Kabupaten Buton itu berasal dari Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Muna dan dari provinsi lain di antaranya Manado, Sulawesi Utara serta Kabupaten Sengkang dan Bone, Sulawesi Selatan.

Namun warga yang berdatangan tersebut belum dapat langsung menuju lokasi tambang emas seperti di Sungai Tahi Ite, Desa Rau-rau dan Sungai Wumbubangka, Desa Tembe serta Desa Hukaeya.

Sebab ketiga lokasi tambang emas rakyat itu dijaga ketat oleh aparat keamanan dari TNI dan Polri serta Satpol PP Pemkab Bombana.

Kepala Pengamanan Lokasi Tambang Emas Sungai Tahi Ite, Desa Rau-Rau, Kecamatan Rarowatu, Marzuki mengatakan, warga yang berdatangan tersebut harus mengurus kelengkapan identitas seperti kartu domisili, kartu izin menambang dan memiliki kartu tanda penduduk (KTP) dari Pemkab Bombana.

“Mereka yang mencoba masuk ke lokasi tambang emas tanpa izin akan diusir secara paksa dan hasil penambangannya akan disita,” ujarnya.

Menurut dia, penertiban terhadap warga pendulang emas harus dilakukan untuk menghindari adanya konflik sesama penambang emas.

Pemkab Bombana, kata dia, akan membuka pendaftaran tahap dua yakni pada 7-30 Oktober 2008 agar seluruh warga yang mendulang emas terdaftar dan diketahui pemerintah setempat.

“Petugas tersebut terus memantau di lokasi tambang emas itu, sehingga kalau ada warga yang kedapatan mendulang emas sebelum diberi ijin, akan dikeluarkan secara paksa,” ujar Marzuki.

Sejak ditemukan tambang emas di Sungai Tahi Ite, Sungai Wabubungka dan di Desa Hukaeya di Kabupaten Bombana pada awal bulan September 2008 atau awal bulan Ramadhan 1429 Hijriah, sekitar 20.000-an warga yang datang dari berbagai pelosok nusantara menyerbu lokasi itu untuk mendulang emas.

Warga yang mendulang emas setiap harinya bisa memperoleh sekitar 5-20 gram sementara harga emas yang dijual oleh pendulang di lokasi tambang itu sekitar Rp175.000 – Rp200.000 per gram sedangkan di toko emas Kota Kendari dibeli oleh tukang emas sekitar 220.000-Rp230.000 per gram.

Pada Idul Fitri 1429 Hijriah, lokasi tambang emas rakyat kosong karena selain pendulang pulang merayakan lebaran, petugas pengamanan juga mulai menjaga ketat lokasi tambang tersebut.
ABI
Sumber : Ant/www.kompas.com

Ditulis dalam Hot News | 1 Komentar »

Banyak Mendadak Jutawan, Ada Juga yang Mendadak Mati

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Oktober 5, 2008

Catatan Perjalanan ke Ladang Emas Bombana (2)

Usai Salat Jumat, saya dan Samir Abdullah meninggalkan Kecamatan Rumbia menuju ke Desa Raurau, Kecamatan Rarowatu, lokasi emas pertama kali ditemukan. Di siang hari, Bombana ternyata sangat panas. Lebih panas dari Kota Makassar.

Laporan: Akbar Hamdan

Karena jarak yang akan ditempuh diperkirakan 40 kilometer, saya pun harus menambah isi bensin sepeda motor saya yang mulai menipis. Namun saya terkejut karena satu-satunya SPBU di Bombana tutup. Bensin eceran memang banyak dijual. Namun harganya lumayan mahal, Rp10.000 per botol. Itu pun isinya kemungkinan tidak genap satu liter.

Di belakang saya, sejumlah pendulang sudah antri mengisi tangki bensin motornya. Tapi mereka tidak mengeluhkan sama sekali mahalnya harga bensin itu.

Dari perbincangan di tempat penjualan bensin eceran itu, saya sempat mendengar beberapa pendulang akan menuju ke Wububangka. Di sana, juga ditemukan emas.

“Tidak lama setelah emas ditemukan di Sungai Tahi Ite, ada juga menemukan emas di Wububangka. Banyak yang ke sana karena tempat pendulangan emas di Tahi Ite sudah dipenuhi pendulang,” jelas Samir Abdullah.

Mulanya saya sempat bingung apakah akan ke Desa Raurau atau Wububangka. Pasalnya, jarak ke Wububangka lebih dekat. Tetapi karena pertimbangan wilayah Raurau yang lebih luas, saya pun akhirnya memutuskan ke sana.

Perjalanan ke Desa Raurau memakan waktu lebih satu jam. Untuk jarak 40 km, seharusnya bisa ditempuh selama satu jam. Namun beberapa bagian jalan ke desa ini juga rusak sehingga pengendara harus pelan-pelan.

Iring-iringan kendaraan para pendulang seakan tidak terputus. Ada yang menuju ke Raurau, tapi lebih banyak yang terlihat datang dari sana.

Saya pun tiba di Desa Raurau. Sekilas, desa ini terlihat subur. Di pinggir jalan berdiri pebukitan yang berisi pohon-pohon besar. Pada jalan masuk menuju Sungai Tahi Ite, ternyata sudah dijaga oleh aparat Satpol PP. Di gerbang jalan masuk, juga dipajang spanduk yang berisikan larangan masuk ke wilayah tambang emas. Bentuk spanduknya sama dengan yang dipasang di Gerbang PPA. Hanya saja, di sini tidak ada sweaping alat dulang. Yang ingin masuk, cukup meninggalkan kartu identitasnya kepada petugas. Petugasnya pun cukup ramah.

Mencapai lokasi tambang emas dari jalan masuk tidak cukup sulit. Sebab sebelum lokasi tambang terdapat pemukiman transmigran. Sudah terbentuk jalan untuk kendaraan roda empat meski masih dari tanah dan bebatuan. Pemukiman transmigran terbagi menjadi beberapa Satuan Pemukiman (SP).

Pemandangan alam di SP ini jauh berbeda dengan di sekitar pinggiran jalan tadi. Pebukitannya tandus. Kebanyakan hanya ditumbuhi ilalang. Tapi tak pernah ada yang menyangka, di daerah tandus inilah emas itu bersemayam. Luasnya, ratusan bahkan mungkin ribuan hektar. Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanya hamparan pebukitan tandus.

Penemuan emas itu jelas menjadi berkah yang tak terkira bagi para transmigran yang selalu diidentikkan dengan hidup kekurangan. Saat memperoleh lahan masing-masing satu hektar, para transmigran memanfaatkannya untuk bercocok tanam. Tapi sayangnya, lahan itu kurang subur. Namun kini, terungkap fakta bahwa tidak suburnya tanah itu karena mengandung banyak logam mulia, emas.

Ayah Haris, salah satu transmigran yang bermukim SP 2 boleh dikata tinggal mewujudkan impiannya. Ayah Haris mengatakan telah memperoleh puluhan gram emas saat mendulang di sungai yang terdapat di dekat rumahnya.

“Tapi sekarang saya berhenti mendulang dulu. Soalnya kaki saya dimakan air,” katanya.

Menurut Haris, tak mendulang pun, para transmigran pemilik lahan sebenarnya sudah bisa memperoleh emas hanya dengan ongkang-ongkang kaki di rumahnya. Sebab ada perjanjian yang mereka buat dengan para pendulang pendatang, di mana setiap 5 gram emas yang diperoleh oleh pendulang pendatang, 2 gram diserahkan kepada pemilik lahan.

“Tetangga saya rata-rata sudah punya ratusan gram emas. Dan mereka tidak perlu capek-capek mendulang di sungai,” kata Haris yang menjadi kepala dusun di SP 2.

Menurut Haris, kebanyakan transmigran menjual emasnya kepada para pembeli emas seharga Rp150.000 per gram. Para pembeli emas ini memang banyak ditemukan di sekitar lokasi tambang. Jumlahnya mencapai ratusan orang. Bahkan kabarnya, banyak pemilik toko emas di Kota Kendari membawa uang miliaran rupiah ke Raurau untuk membeli butiran-butiran emas yang didapatkan oleh pendulang.

“Ada dulu yang sampai bawa uang Rp2 miliar. Uangnya habis, tapi yang mau menjual emasnya masih banyak,” kata Haris.

Peredaran uang hingga miliaran rupiah di Raurau tampaknya bukan cerita kosong. Beberapa pendulang yang penulis temui di sungai Raurau mengaku rata-rata bisa memperoleh emas sampai 3 gram per hari. Saya bahkan sempat bertemu dengan seorang bocah berumur sekitar delapan tahun bernama Andi yang mengaku telah memperoleh emas 1,5 gram dalam tiga kai mendulang.

“Saya sudah dapat 5 gram emas,” kata Umar Lathief, warga Kolaka Utara yang mengaku baru pertama kali mendulang emas dalam hidupnya.

Di masa awal, diperkirakan ada 20.000 orang mendulang emas. Jika 20.000 pendulang ini rata-rata memperoleh 3 gram emas saja per hari, itu berarti tidak kurang 60 kg emas yang terangkat dari dalam tanah Raurau. Kalau dikalikan lagi dengan harga emas setempat Rp150.000 per gram, itu berarti nilai emas yang diperoleh tiap hari mencapai Rp9.000.000.000. Dan aktivitas penambangan ini diperkirakan sudah berlangsung sebulan lebih.

Boleh dikata, ladang emas ini membuat banyak orang mendadak menjadi jutawan. Yang santer terdengar, sepeda motor di Kabupaten Bombana langsung habis terjual. Bahkan juga di Kota Kendari. Bukan dibeli secara cicil, tapi tunai.

Itu kisah baiknya. Bagian kurang baiknya, tidak sedikit warga yang menderita sakit karena terlalu lama jongkok mendulang. Banyak juga yang terserang penyakit kulit karena terkena air sungai yang sudah tercemar. Sejak didulang, sungai-sungai itu tidak mengalirkan lagi air sebagaimana mestinya. Kubangan bekas mendulang ada di mana-mana. Airnya berwarna cokelat keruh.

Namun bagian terburuk dari kisah penemuan ladang emas ini adanya korban jiwa. Banyak versi mengenai jumlah korban yang tewas. Ada yang bilang 10 orang. Koran-koran lokal melaporkan lima orang. Namun keterangan yang diperoleh penulis dari Wakapolres Bombana AKP Laode Kadiman disebutkan hanya 4 orang.

AKP Laode mengatakan, tiga korban tewas saat membuat rongga di tepian sungai. Sebab sewaktu membuat rongga dalam tanah, mereka tidak menyadari tumpukan material tanah di atas rongga itu akan semakin berat. Dan hukum gaya gravitasi akhirnya membantu tanah itu rubuh dan menewaskan pendulang itu.

Ada juga pendulang tewas karena tertimpa pohon karena pendulang menggali di bagian akar pohon itu. “Satu lagi pendulang tewas karena kecelakaan lalu-lintas di sekitar lokasi tambang,” tandas AKP Laode. (*/bersambung)

sumber:www.fajar.co.id

Ditulis dalam Hot News | Leave a Comment »

Demam Emas Bombana

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Oktober 5, 2008

Catatan Perjalanan ke Ladang Emas Bombana (1)

HAMPIR sebulan terakhir, Bombana menjadi buah bibir, khususnya di kawasan Timur Indonesia.

Warga dari berbagai daerah, utamanya Sulawesi, Maluku dan Papua, dilaporkan berbondong-bondong menuju Kabupaten Bombana. Itu setelah di Kecamatan Rarowatu, salah satu kecamatan di kabupaten ini, ditemukan daerah persebaran emas.

Laporan: Akbar Hamdan

Menjelang akhir September lalu, penulis mengunjungi Kabupaten Bombana untuk melihat langsung kawasan emas tersebut. Namun belum sampai di Bombana, heboh penemuan tambang emas tersebut sudah terasa. Di pesawat, yang dibicarakan penumpang rata-rata mengenai penemuan emas itu. Begitu pun saat di Bandara Wolter Monginsidi Kendari, menunggu pengambilan bagasi, lagi-lagi pembicaraan tentang emas yang nyaring terdengar.

Keesokan paginya, penulis berangkat dari Kota Kendari menuju Kabupaten Bombana, menggunakan sepeda motor. Selain karena alasan mabuk darat, penulis menggunakan motor atas saran seorang kawan, wartawan salah satu televisi swasta nasional di Kendari. Menurut kawan itu, sejak emas ditemukan di Bombana, tak ada lagi tukang ojek yang beroperasi.

Kata dia, semua tukang ojek lebih memilih mendulang emas. Sementara angkutan umum di Bombana hanya ojek. Dan untuk mencapai lokasi penemuan emas, itu masih ada 40 kilometer jarak yang harus dilalui dari kota Kabupaten Bombana.

Rute Kendari-Bombana lumayan jauh. Jaraknya hampir 170 kilometer. Dengan sepeda motor, perjalanan memakan waktu rata-rata lima jam atau empat jam dengan kendaraan umum. Namun tidak seperti di Sulsel yang bisa melewati beberapa kabupaten dengan jarak sepanjang itu, Kota Kendari dan Kabupaten Bombana ternyata hanya dipisahkan oleh satu kabupaten saja, Kabupaten Konawe Selatan.

Perjalanan dari Kendari ke Bombana lumayan asyik. Itu karena pemandangan alamnya masih asri. Jalannya pun rata-rata lurus dan mulus. Pohon-pohon jambu mete begitu mudah ditemukan di sepanjang pinggir jalan poros. Tanaman padi yang masih berumur dua bulan menebarkan wewangian khasnya.

Namun ada pemandangan lain yang penulis temukan di Konawe Selatan, yang tidak dimiliki daerah-daerah di Sulawesi Selatan. Yaitu pemandangan alam padang rumput savana yang sangat luas dan datar. Jalan poros dari Kendari-Bombana membelah kawasan padang rumput savana dengan panjang jalan sekitar 20 kilometer. Konon, padang savana yang menjadi bagian dari Taman Nasional Rawa Aopa ini dulunya menjadi daerah koloni ratusan ribu rusa sebelum populasinya menyusut drastis akibat perburuan.

Di jalan ini pula, saya mulai menemui iring-iringan pengendara motor. Setiap motor membawa peralatan yang sama, yakni tas pakaian, wajan, sekop, linggis, jeriken, karung yang berisi tanah dan beberapa motor memuat tenda plastik yang di Makassar biasa disebut tenda coto. Tak cuma itu, belasan truk serta mobil pikup juga terlihat memuat barang yang sama.

Dengan barang-barang bawaan itu, mereka jelas bukan sedang mudik. Para pengendara ini kebanyakan datang dari arah Bombana. Saya pun bertanya kepada rombongan pengendara motor yang tengah beristirahat di bawah pepohonan yang terdapat di sela-sela padang rumput savana. Mereka mengaku baru saja meninggalkan kawasan tambang emas Bombana. Dari keterangan mereka, penulis peroleh informasi bahwa Pemerintah Kabupaten Bombana berencana menutup kawasan tambang emas itu.

“Tanggal 27 (September, red), tambang emas itu katanya mau ditutup. Kita disuruh pergi. Tapi kita akan datang lagi nanti selesai lebaran,” kata Zainal, salah satu pengendara yang mengaku berasal dari Kabupaten Konawe.

Zaenal dan kawan-kawannya tidaklah pergi dengan tangan kosong. Zaenal sendiri mengaku telah memperoleh sekitar 40 gram emas dari hasil mendulang selama sepekan. Dia kemudian memperlihatkan butiran-butiran emas yang dibungkus dalam kantong plastik transparan yang biasanya digunakan untuk membungkus obat-obatan. Rencananya, Zaenal akan menjual emas itu di salah satu toko emas di Kendari.

“Di sana (lokasi tambang, red) ada yang langsung beli emas kita. Tapi harganya hanya Rp 150.000 per gram. Kalau di kota (Kendari, red), masih bisa laku sampai Rp 200.000 per gram,” kata Zaenal.

Beberapa rekan Zaenal juga mengaku telah memperoleh emas dengan jumlah yang bervariasi. Malah salah satu rekan Zaenal berhasil mengumpulkan 78 gram emas. Jika dia berhasil menjual emasnya dengan harga Rp 200.000 per gramnya, itu berarti uang tunai tidak kurang Rp 15.600.000 akan menjadi miliknya.

“Asalkan kita mendulang, pasti dapat emas,” kata Firman, warga Konawe yang mendapatkan 78 gram emas tadi.

Emas yang mereka telah peroleh itu belum terhitung dengan tanah yang telah mereka karungkan. Setiap pengendara rata-rata membawa sekarung tanah. Zaenal dan Firman mengaku tanah yang diambil dari lokasi tambang itu mengandung emas. Mereka akan kembali mendulang tanah itu jika telah sampai di rumahnya masing-masing.

Penulis kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa kilometer di depan, tepatnya di kawasan yang disebut Gerbang PPA, tampak sekelompok polisi dan Satpol PP tengah sibuk memeriksa kendaraan. Seluruh kendaraan yang menuju atau meninggalkan Kabupaten Bombana ditahan di tempat itu. Tampak pula terpajang sebuah spanduk yang intinya pelarangan memasuki kawasan tambang emas sejak tanggal 22 September.

Para polisi ini tidak sedang melakukan sweeping lalu-lintas. Tetapi sweeping alat dulang. Tak satu pun pengendara yang mereka lewatkan, termasuk penulis. Namun setelah penulis memperlihatkan ID Card Fajar, aparat langsung mempersilakan melanjutkan perjalanan ke Bombana.

Salah satu polisi yang minta namanya tidak dipublikasikan menjelaskan bahwa polisi menahan alat mendulang yang dibawa pengendara yang ingin masuk ke Bombana, utamanya wajan, sekop dan linggis. Menurutnya, unsur Muspida Bombana telah sepakat menutup kegiatan aktivitas tambang untuk sementara waktu. Sedangkan mereka yang meninggalkan Bombana, polisi hanya memeriksa senjata tajam yang kemungkinan dibawa oleh pendulang.

Gerbang PPA ini menandakan Kabupaten Bombana sudah sangat dekat. Sayangnya, kondisi jalan selepas Gerbang PPA ini rusak berat. Di sepanjang jalan menuju Bombana, jumlah pengendara motor semakin banyak ditemui. Beberapa pengendara motor di antaranya adalah satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak kecil. Kebanyakan pengendara jalan dengan berkelompok.

Penulis akhirnya sampai di Kecamatan Rumbia, pusat keramaian Kabupaten Bombana. Di Rumbia, jumlah pengendara motor lebih banyak lagi. Mereka banyak berkumpul di tempat-tempat penjualan bensin eceran.

Karena perjalanan yang cukup melelahkan, penulis tidak langsung menuju Desa Raurau, Kecamatan Rarowatu, tempat di mana emas pertama kali ditemukan. Itu juga atas saran Samir Abdullah, salah seorang tokoh masyarakat setempat yang juga Ketua DPD PKPB Bombana. Namun Samir Abdullah berjanji akan menemani penulis ke lokasi tambang emas tersebut keesokan harinya.

Malam harinya penulis manfaatkan untuk keliling Bombana sekaligus mencari informasi lebih banyak lagi mengenai penemuan emas Bombana. Sekilas, Kabupaten Bombana memiliki tiga dimensi alam, lautan, dataran rendah dan dataran tinggi. Kecamatan Rumbia sendiri berada di daerah pinggiran laut.

Seperti kabupaten-kabupaten yang terletak jauh dari kota, Bombana juga sepi di malam hari. Meski masih dalam suasana Ramadan waktu itu, namun masjid yang penulis lewati kebanyakan lengang. Jumlah jemaahnya kurang satu saf.

Menurut Samir Abdullah, kebanyakan warga berada di lokasi tambang. Mereka terus mencari emas meski hari telah gelap. Bahkan, Samir menyebutkan bahwa keramaian Bombana telah berpindah ke lokasi tambang.

“Di sana kendaraan tidak pernah berhenti lalu-lalang. Orang bangun tenda. Mereka makan dan tidur di sana,” kata mantan Camat Lora, Kabupaten Bombana ini.

Dia melanjutkan, di masa awal ditemukannya ladang emas itu, Rumbia yang menjadi kota Kabupaten Bombana bak tak berpenghuni. Ribuan penduduknya berbondong-bondong menuju ke ladang emas itu. Jalanan lengang. Rumah-rumah dikunci. Perkantoran menjadi sepi. Pasar nyaris tak beraktivitas karena sebagian besar pedagang ikut mendulang emas.

Setiap hari, tidak kurang 2000 orang dilaporkan masuk ke Kabupaten Bombana dengan satu tujuan, Desa Raurau. Itu membuat sungai-sungai di Raurau, utamanya Sungai Tahi Ite disesaki para pendulang. Diperkirakan jumlah pendulang mencapai 20.000 orang.
“Kotanya Bombana seperti pindah tempat. Banyak sekali orang di sana,” tuturnya (*/bersambung)

sumber:www.fajar.co.id

Ditulis dalam Hot News | 2 Komentar »

TV Bagian Dari Kekerasan Itu!

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Juli 1, 2008

Aksi Unjuk Rasa mahasiswa di Jakarta yang terjadi belakangan ini menjadi topik terhangat di media khususnya televisi. Pembakaran mobil plat merah, aksi kejar-kejaran polisi dan mahasiswa, pembobolan pagar kantor DPR hingga penyelidikan desainer unjuk rasa.

Sayangnya media televisi hanya mengekplorasi issu ini tanpa memperhatikan efek citra yang kelak merugikan pihak pengunjuk rasa. Media televisi ternyata hanya memotret atau merekam KEKERASAN nya saja. Tanpa mengeksplorasi bagian-bagian lain yang justru bisa lebih berimbang mungkin tentang Kinerja DPR menyangkut BBM, POLISI dan sistem pengamanan unjuk rasa dan kelanjutan kasus kematian mahasiswa UNAS.

Seolah-olah kekerasan dalam berunjuk rasa adalah hal yang baru dan spektakuler. Media televisi dalam hal ini wartawan dan pimpinan redaksi liputan begitu kegirangan mendapatkan gambar yang diyakini bisa “menjual” tontonan.

Tak bisa dipungkiri jika tipikal masyarakat senang dengan siaran kekerasan. tapi logika televisi kapitalis memperteguh karena memahami berita seperti ini mengibur. Entah sadar atau tidak Media Televisi telah merekonstruksi sebuah realitas, setting citra relasi antara MAHASISWA dan KEKERASAN langsung saja melekat sebab khalayak menginternalisasi dengan mudahnya karena disuguhi berkali-kali dalam sehari bahkan dalam seminggu.

Heriyanto dalam buku analisis wacananya memakai istilah representasi dalam kasus pemberitaan media. pemakaian kosakata dalam judul berita atau isi berita merepresentasikan seseorang atau kelompok dalam tindakannya terhadap sesuatu sementara kelompok lain bisa saja lepas dari konsentrasi berita dan luput dari pencitraan dan ini adalah ketidakadilan.

Media televisi secara tidak langsung melakukan defenisi dengan judul berita atau isi berita yang di dominasi kata KEKERASAN/MAHASISWA. Padahal KEKERASAN dan MAHASISWA tidaklah berdiri sendiri tanpa ada konteks yang melatarbelakangi sebuah peristiwa. masih banyak variabel lain dalam priinsip jurnalisme, tapi mengapa hanya KEKERASAN dan MAHASISWA yang dominan dalam sebuah berita?

Sekali lagi Media Televisi mengambil bagian dari kekerasan itu sendiri, tanpa disadari oleh massa khalayak penonton hanya dibodohi tak ada aspek pembelajaran yang jauh lebih penting dari sekedar mencitrakan mahasiswa sedemikian buruk.

Ditulis dalam Hot News, Opini | Leave a Comment »

Siapa di Balik Naiknya Harga Minyak?

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Mei 31, 2008

Oleh A. Jafar M. Sidik

Jakarta (ANTARA News) – Siapa tak kenal T. Boone Pickens? Di pasar energi global dan lingkungan pasar modal Wall Street di Amerika Serikat (AS), nama T. Boone Pickens terkenal sebagai spekulan minyak kelas atas paling penting.

“Saat ia berbicara, orang-orang menyimaknya. Bahasanya mudah dimengerti siapa pun. Ketika menyebut harga minyak bakal mencapai 150 dolar AS per barel akhir 2008 nanti, semua orang mengamininya,” kata Todd Benjamin, Redaktur Keuangan CNN International.

Kalangan pasar keuangan global memang melihat Boone sebagai jago memprediksi harga minyak dan pandai mengeksploitasi kekuatan logikanya yang cemerlang untuk menghubungkan fakta dan kecenderungan harga dengan psikologi pasar.

“Sebanyak 85 juta barel adalah total produksi minyak yang bisa dihasilkan dunia sehari, padahal permintaan minyak dunia sehari 87 juta barel,” kata Pickens, saat mengungkapkan alasan mengapa harga minyak dunia bakal terus naik.

Tak ayal, asumsinya mendorong pelaku pasar keuangan –diantaranya lembaga investasi Goldman Sachs– membuat prediksi provokatif tentang harga minyak dunia dengan asumsi bahwa keadaan riil di mana dunia sulit memenuhi kebutuhan minyaknya memang bakal terjadi.

Harga minyak pun merangsek tanpa bisa dihentikan siapa pun. Seluruh dunia bimbang, sementara para pemimpin banyak negara was-was karena situasi itu membatasi pilihan mereka dalam menyelamatkan keuangan negara.

Pihak yang kerepotan adalah negara-negara di mana pemerintahnya enggan menempuh langkah berani, yaitu memotong insentif komunitas kaya yang walau populasinya sangat kecil namun menguasai sistem pembiayaan kekuasaan dan denyut aorta keuangan mesin-mesin politik.

Langkah mereka pun klise, memotong subsidi publik. Mereka menyadari langkah itu bakal menyakitkan rakyat, namun pergerakan harga minyak dunia yang liar belakangan ini telah membunuh kreativitas mereka dalam menghasilkan jalan keluar yang aman secara sosial.

Tak hanya negara-negara berkembang, negara maju layaknya AS pun tak tahan dengan keadaan tersebut. Para pejabat AS malah menuduh segelintir orang tamak telah membuat ekonomi berdarah-darah dan memaksa sumber keuangan AS terpompa ke luar negeri hanya untuk mendapatkan minyak.

“Rakyat bingung karena permintaan minyak tidaklah segila seperti diperkirakan, tetapi mengapa harga minyak terus menggila?” tanya Senator Herb Kohl, seperti dikutip Washington Post edisi 22 Mei 2008.

Tak hanya pejabat politik, eksekutif perusahaan-perusahaan minyak juga menuduh spekulan dan pengelola dana sebagai biang kesulitan global ini. Sebagian lainnya memperluas tuduhan ke Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang disebut sengaja menyempitkan kapasitas produksi minyaknya agar harga minyak terus meninggi.

OPEC balik menyerang dengan menunjuk para spekulan harga, para penimbun minyak di AS dan kebijakan politik Washington yang sembrono justru aktor dibalik malapetaka harga tersebut.

Tidak ada yang mengetahui pasti apa faktor terkuat yang membuat harga minyak terus merangsek hingga mempersulit kehidupan manusia seluruh dunia, namun sejumlah kalangan menilai kapasitas produksi minyak dunia sudah tak lagi bisa menjawab ekspansi permintaan. Apalagi, negara seperti RRC dan India agresif memburu minyak karena ekonominya semakin haus energi.

Koran Christian Science Monitor edisi 2 Mei 2008 menyebutkan, di dekade 1980an dan 1990an, meningkatnya permintaan pada minyak bisa dijawab dengan memacu ladang-ladang minyak baru untuk berproduksi. Tetapi kemampuan itu meluntur belakangan ini.

Ladang minyak baru memang bermunculan, seperti di Brazil dan Afrika Barat, namun butuh waktu lama untuk sampai bisa berproduksi.

Saat bersamaan, era ekstraksi minyak secara murah nan mudah sudah berakhir, sementara risiko justru meningkat termasuk depresiasi dolar AS yang memotong potensi untung produsen minyak. Akhirnya, produsen pun menaikkan harga.

Di periode terdekat lalu, negara-negara non-OPEC, terutama setelah Uni Soviet runtuh untuk memunculkan Rusia dan Laut Kaspia sebagai produsen penting minyak dunia, maka masyarakat dunia memperoleh alternatif baru dalam mendapatkan minyak.

Namun, beberapa alasan, diantaranya ongkos produksi yang mahal dan kebijakan nasionalis sehingga modal asing enggan masuk, maka negara-negara itu sulit menggenjot produksi. Kapasitas produksi minyak mereka pun terkunci pada 50 juta barel per hari atau 60 persen dari total suplai minyak dunia, padahal mereka bisa mencapai lebih dari itu.

Di kawasan lain, ladang-ladang minyak sedang mendekati tahap jenuh. Kapasitas produksi minyak Norwegia misalnya, turun 25 persen dan Inggris terpangkas 43 persen. Ladang Laut Utara di mana Inggris dan Norwegia menambang minyak, kini memang dalam kondisi sekarat. Situasi serupa terjadi di Teluk Prudhoe, Alaska, di mana ladang minyak terbesar AS berada.

“Dunia tak kekurangan minyak, yang ada adalah kapasitas produksi yang menurun,” kata Robinson West, kepala PFC Energy, sebuah perusahaan konsultan energi di Washington.

Meksiko yang adalah eksportir terpenting AS, juga sulit meningkatkan produksinya yang pada dua tahun terakhir menyusut sembilan persen atau 300 ribu barel per hari. Seperti Indonesia sekarang, lima tahun lagi, Meksiko diprediksi berubah menjadi importir netto minyak.

Ironisnya, Rusia yang kapasitas produksinya 10 juta barel per hari, malah enggan menutup kekurangan stok minyak dunia ini. Meski cadangan wilayah minyaknya melimpah, Rusia tidak mau gegabah memacu produksi minyaknya.

Langkah Rusia itu malah diikuti OPEC yang cadangan minyaknya mencapai 70 persen dari total cadangan minyak dunia dan ekspornya 40 persen dari total ekspor dunia. OPEC juga malas menaikkan pagu produksi minyak. Akibatnya, kapasitas produksi dan suplai minyak dunia stagnan, padahal permintaan meningkat.

Situasi pelik ini membuat sejumlah negara berupaya keras mencari ladang-ladang baru hingga ke tengah samudera dan agresif mengonversi sumber non fosil menjadi bioenergi.

Masalahnya, mengutip Badan Energi Internasional (IEA), investasi untuk mencari ladang-ladang baru dan ekspansi bioenergi itu tidak bisa menutup kekurangan suplai energi dunia, selain jumlahnya terlalu besar.

Dibutuhkan 5,4 triliun dolar AS untuk menutup kekurangan produksi minyak sampai 2030, sementara bolong kapasitas produksi minyak dunia baru teratasi mulai 2015, demikian IEA.

“Menurut teori ekonomi normal dan sejarah perminyakan, kenaikan harga minyak akan berdampak pada dua hal besar yaitu tertekannya permintaan dan bertambahnya suplai,” kata Fatih Birol, kepala ekonom IEA. Sayang, klaim ini tak berlaku sekarang.

Alhasil, analisis pakar mengenai semakin senjangnya kapasitas produksi dan permintaan minyak dunia tak bisa mencegah orang sejagat untuk tetap mengarahkan telunjuknya ke para spekulan yang didakwa telah berdosa mempermainkan harga minyak.

“Fundamental pasar yakni keseimbangan permintaan dan suplai memang sedang bermasalah. Tetapi faktor spekulasilah yang membuat harga minyak melonjak,” demikian analisis Cambridge Energy Research Associates.

David Kelly, kepala analis pasar J.P. Morgan Funds, bahkan menyatakan pertumbuhan konsumsi minyak dunia tidak setinggi diklaim kalangan pasar energi.

“Ada bukti sangat kuat bahwa spekulasi skala luarbiasa besar telah membuat harga minyak meningkat tajam,” klaim Senat AS dalam laporan bertajuk The Role of Market Speculation in Rising Oil and Gas Prices tertanggal 27 Juni 2006. (*)

Ditulis dalam Hot News, Opini | Leave a Comment »

PENYERBUAN KAMPUS UNAS MENGINDIKASIKAN PELANGGARAN HAM

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Mei 30, 2008

Metrotvnews.com, Jakarta: Penyerbuan polisi ke Kampus Universitas Nasional mengarah pada pelanggaran hak asasi manusia. Banyak mahasiswa yang menjadi korban kekerasan dalam peristiwa itu. Demikian disampaikan Ketua Tim Investigasi Kasus Penyerbuan ke Kampus Unas, Nur Kholis saat memimpin proses investigasi di Jakarta, Kamis (29/5).

Dalam proses ini Komnas HAM meminta kesaksian sekitar 20 mahasiswa korban penyerbuan. Mereka menjelaskan kronologis terjadinya penyerbuan. Puluhan mahasiswa juga menunjukkan bekas luka akibat pukulan dan menunjukkan bukti penyerangan fisik seperti gambar rontgen.

Nur menegaskan, penyelidikan dilakukan guna mengumpulkan informasi terkait kemungkinan terjadinya pelanggaran HAM oleh polisi. “Kita memeriksa semua korban, baik yang mendapat serangan fisik maupun nonfisik. Termasuk juga memeriksa mereka yang mengetahui perusakan tersebut,” jelas Nur.(***)

Ditulis dalam Hot News | 1 Komentar »

PERTAMINA DESAK PLN MENJELASKAN KEKURANGAN PASOKAN BBM

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Mei 29, 2008


Metrotvnews.com, Jakarta: Pertamina meminta Perusahaan Listrik Negara agar transparan mengenai kekurangan pasokan bahan bakar minyak (BBM) untuk pembangkit listriknya. Hingga saat ini Pertamina telah memenuhi kewajibannya untuk melakukan public service obligation ke PLN sesuai kesepakatan dengan pemerintah.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Utama Pertamina Ari Hernanto Soemarno di sela-sela seminar di Jakarta, kemarin. Ari mengatakan, hingga kini pihaknya belum menerima klarifikasi dari PLN mengenai pasokan BBM dari mana yang berkurang. Menurut Ari, BBM untuk pembangkit PLN bukan hanya berasal dari Pertamina, tapi juga Shell atau pasar spot.

Apabila pembangkit listrik PLN mengalami kekurangan pasokan BBM, Pertamina siap menambah pasokan. Tapi, Pertamina harus terlebih dulu memeriksa sisa pasokan BBM di dalam negeri dan berkoordinasi dengan pemerintah. Selain itu, Ari menambahkan, harga yang ditawarkan kepada PLN bisa saja berubah sesuai kesepakatan antara pemerintah, Pertamina dan PLN.

Selama harga BBM PSO Pertamina ke PLN sebesar Mops plus lima persen dan harga ini merupakan harga subsidi. Namun, jika PLN meminta Pertamina menambah pasokan, Pertamina kemungkinan akan mengimpor minyak dari luar negeri.

Ditulis dalam Hot News | Leave a Comment »