]]IndiPress[[

Not For Sale

Arsip untuk ‘Budaya’ Kategori

Changcuters Nostalgia Rock N Roll

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Juni 10, 2008

Wanita Racun Dunia…/ Biar kata nenek sihir Bagiku kau britney spear I love U bibeh Biar kata mirip buaya Bagiku luna maya oowhh..hooo i love u bibeh. Itulah sepotong lirik-lirik lagu Changcuters Sebuah band musik yang semakin populer sepanjang tahun 2008, dengan tembang hits Racun Dunia dan I love u Bibeh menggebrak sejumlah panggung konser di beberapa stasiun tv dan penonton serentak bergoyang dan ikut bernyanyi karena semakin akrab dan enak ditelinga.

Dilihat dari tampilan personilnya yang nyentrik mengingatkan kita pada suasana tahun 70-an dengan genre rock n roll Elvis Presley, khususnya sang vokalis Changcuters, potongan rambut, pakaian hingga aksi panggung tidak jauh dari legendaries rock n roll Elvis. Dari website resminya thechangcutersrock juga disebut TRIA (Lead vocal) is phsycotic singer with an extremely strong voice, looks and sounds like Mick Jagger, Jim Morrisson And Steven Taylor Mixed it all together,he has polite attitude but still you can feel Strong Vibration of Rock And Roll Surrounding him And you’ll be amazed when you see him perform on stage!!. Komplikasi dari sejumlah ikon musisi rock n roll terkenal ini mewarnai performa changcuters.

Changcuters adalah bagian dari hiperrealitas. Sebuah realitas yang mengacu dari masa lalu. Hiperrealisme dibentuk dari bagian integral realitas yang dekodekan dan diabadikan, dan tanpa mengubah apa-apa darinya.(Baudrillard 1983:147, Y.Piliang, 1999:90). Memakai istilah hiperealitas Umberto Eco, Changcuters telah membangkitkan realitas yang telah lama hilang dalam sebuah kebudayaan. Ada kebangkrutan realitas yang pernah menjadi budaya pop dalam sebuah zaman. Dari sisi materi dan perangkatnya tidak ada yang baru namun menjelma dalam bentuk yang lain dan konteks berbeda. Icon rock n rollnya tidak ada yang berubah. Menurut Yasraf A.piliang dalam bukunya Hiperrealitas Kebudayaan menafsir pandangan Eco bahwa ‘reproduksi ikonis realitas ini dilandasi oleh alasan-alasan nostalgia’.

Duplikasi ikon rock n roll Changcuters bukanlah dalam artian jiplakan murni dari pendahulu rock n roll yang pernah ada, karena ada konteks luna maya, Britney Spears dalam kandungan liriknya terlihat kontemporer. Dalam kamus Postmodernisme menempatkan Changcuters sebagai Pastiche. Eksistensi karya yang mengandung pastiche sangat mengacu pada kebudayaan masa lalu dan karya-karya serta idiom-idiom estetik yang ada sebelumnya. Pastiche dianggap Baldick sebagai ’pinjaman’ ikon yang menurut Y.A Piliang bernilai negatif karena miskin kreatifitas dan orsinilitas.

Namun demikian, Changcuters adalah milik Indonesia, adalah cita rasa baru bagi anak-anak muda tanah air zaman sekarang yang senang dengan musik rock. Energi kehadiran Changcuters menjadi pendobrak dan penyeimbang pop melayunya Kangen Band, ST12 dan Wali yang terdengar mengalun cengeng.

Karya tetaplah karya selama tidak melakukan duplikasi murni, mari berkarya dan tetap menghargai karya orang lain.[]

Ditulis dalam Budaya, Music, Opini | 2 Komentar »

Blog;Cermin Identitas

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Mei 20, 2008

Arsyi Pamma

Gagasan dan ide seringkali melintas tanpa sempat menangkap dan menuliskannya dalam space yang lebih terstruktur rapi. Gagasan yang mungkin saja penting menguap begitu saja. Persentuhanku dengan dunia blog telah melenturkan kembali saraf-sarafku yang telah kaku dan stagnan. Ada motivasi baru untuk lebih giat dan bebas merefleksikan gagasan kedalam bentuk tulisan. Namun demikian, setiap orang berbeda dalam mengartikulasikan ide-ide dan pikirannya. Blog dapat mencerminkan identitas pemiliknya masing-masing.

Isi blog menggambarkan bentuk-bentuknya tersendiri, Ada keluhuran, kejahatan, kebohongan, dan berbagai bentuk ideologinya. Produksi teks,simbol,ikon dan apapun itu, saling menyalip, menegasikan dan membukankan. Konsep Marx tentang pertentangan Borjuis dan Proletar tidak berarti apa-apa. sebab dua kategori ini terlalu sempit. untuk memotret mazhab-mazhab pemikiran yang lebih majemuk. kekuasaan tidak lagi terpusat pada dua ranah pemikiran. Tapi menyebar diwilayah feriferial dalam bentuk komunitas-komunitas yang saling mempengaruhi. Di dunia blog, Tesis Huntington semakin terlihat lebih nyata dimana benturan-benturan ideology agama,mazhab, dan pemikiran saling bergesekan, berbagai intrik ideologi dan kekuasaan terungkap lebih vulgar mungkin karena dunia maya menyediakan ruang yang lebih terbuka.

Ditulis dalam Budaya | Leave a Comment »

Cultural Studies (Kajian Budaya)

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Mei 13, 2008

Oleh ANTARIKSA

Cultural studies (kajian budaya) memfokuskan diri pada hubungan antara relasi-relasi sosial dengan makna-makna. Berbeda dengan “kritik kebudayaan” yang memandang kebudayaan sebagai bidang seni, estetika, dan nilai-nilai moral/kreatif, kajian budaya berusaha mencari penjelasan perbedaan kebudayaan dan praktek kebudayaan tidak dengan menunjuk nilai-nilai intrinsik dan abadi (how good?), tetapi dengan menunjuk seluruh peta relasi sosial (in whose interest?).

Dengan demikian setiap pemilahan antara masyarakat atau praktek yang “berkebudayaan” dan yang “tidak berkebudayaan”, yang diwarisi dari tradisi elit kritisisme kebudayaan, sekarang dipandang dalam terminologi klas.

Bentuk kajian budaya dipengaruhi secara langsung oleh perlawanan untuk mendekolonialisasikan konsep tersebut dan untuk mengkritisi tendensi yang berusaha mempertahankan aturan-aturan yang mereproduksi kelas dan ketidaksamaan lainnya. Maka kajian budaya membangun sebuah kerangka kerja yang berusaha menempatkan dan menemukan kembali kebudayaan dari kelompok-kelompok yang sampai sekarang dilupakan. Inilah awal diperhatikannya bentuk-bentuk dan sejarah perkembangan kebudayaan kelas pekerja, serta analisis bentuk-bentuk kontemporer kebudayaan populer dan media.

Tidak seperti disiplin akademis tradisional, kajian budaya tidak mempunyai ranah intelektual atau disiplin yang terdefinisi dengan jelas. Ia tumbuh subur pada batas-batas dan pertemuan bermacam wacana yang sudah dilembagakan, terutama dalam susastra, sosiologi, dan sejarah; juga dalam linguistik, semiotik, antropologi, dan psikoanalisa. Bagian dari hasilnya, dan bagian dari pergolakan politik dan intelektual tahun 1960-an (yang ditandai dengan perkembangan yang cepat dan meluasnya strukturalisme, semiotik, marxisme,dan feminisme) kajian budaya memasuki periode perkembangan teoritis yang intensif. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana kebudayaan (produksi sosial makna dan kesadaran) dapat dijelaskan dalam dirinya sendiri dan dalam hubungannya dengan ekonomi (produksi) dan politik (relasi sosial).

Termuat di Newsletter KUNCI No. 1, Juli 1999

Alamat halaman ini: http://kunci.or.id/esai/nws/01/kajian_budaya.htm

Ditulis dalam Budaya | 3 Komentar »

Budaya sebagai Medan Pertarungan Kuasa

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Mei 13, 2008

Oleh ANTARIKSA

Banyak karya kajian budaya memahami komunikasi sebagai tindakan produksi makna, dan bagaimana sistem-sistem makna dinegosiasikan oleh pemakainya dalam kebudayaan. Kebudayaan bisa pula dimengerti sebagai totalitas tindakan komunikasi dan sistem-sistem makna. Posisi seseorang dalam kebudayaan akan ditentukan oleh ‘kemelek-budaya-an’ (cultural literacy), yaitu pengetahuan akan sistem-sistem makna dan kemampuannya untuk menegosiasikan sistem-sistem itu dalam berbagai konteks budaya.

Pandangan yang melihat komunikasi sebagai sebuah tindakan budaya, yang memerlukan berbagai bentuk kemelek-hurufan budaya, sangat dipengaruhi oleh pemikiran sosiolog Perancis Pierre Bourdieu. Ide-idenya sangat berguna karena ia mengatakan bahwa ‘tindakan’ (practice) atau apa yang secara aktual dilakukan seseorang, merupakan bentukan dari (dan sekaligus respon terhadap) aturan-aturan dan konvensi-konvensi budaya.

Salah satu cara memahami hubungan kebudayaan dengan tindakan adalah mengikuti pengandaian Bourdieu tentang perjalanan dan peta. Kebudayaan adalah peta sebuah tempat, sekaligus perjalanan menuju tempat itu. Peta adalah aturan dan konvensi, sedangkan perjalanan adalah tindakan aktual. Apa yang disebut dengan kemelek-hurufan budaya adalah “perasaan” untuk menegosiasikan aturan-aturan budaya itu, yang bertujuan untuk memilih jalan kita dalam kebudayaan. Tindakan adalah performance dari kemelek-hurufan budaya.

Kemelek-hurufan budaya misalnya dapat dilihat dalam sebuah film Jepang Tampopo, dalam adegan ketika sekolompok pebisnis Jepang makan bersama di sebuah restoran Perancis yang mahal. Perilaku kelompok dalam budaya bisnis Jepang dikenal bersifat sangat hirarkis. Dalam acara makan bersama macam ini, kebiasaan yang umum berlaku adalah seseorang yang dianggap superior dalam kelompok akan terlebih dulu memesan makanan, kemudian orang lain tinggal mengikutinya saja.

Kebiasaan itu jadi berubah ketika mereka harus “tampil” di sebuah restoran Perancis, yang tentu saja menuntut kemelek-hurufan dalam makanan dan anggur Perancis. Seseorang yang dianggap pemimpin dalam kelompok ini ternyata buta huruf dalam wilayah ini: ia tak mengenal dan tak bisa membayangkan makanan yang terdaftar di menu. Ia juga tak tahu bagaimana menyesuaikan jenis anggur dengan jenis makanan yang dipilih. Akhirnya ia memesan makanan dan anggur sekenanya. Semua anggota kelompok ini, kecuali satu orang saja, sama-sama buta hurufnya dan memilih hidangan dengan mengikuti pilihan pemimpinnya.

Pesanan terakhir dari seorang pebisnis muda, sangat berbeda dengan pesanan lainnya. Pesanannya menunjukkan bahwa ia sangat melek huruf dalam makanan dan anggur Perancis. Ia tampak tenang mengahadapi menu, membaca dan menganalisisnya, dan menunjukkan betapa ia sangat tahu akan semua yang dilakukannya. Ia berbicara sebentar dengan pelayan, mengajukan beberapa pertanyaan “bermutu”, dan akhirnya menjatuhkan pilihan yang sangat “berselera”. Semua koleganya sangat terkesan dan ini membuka peluang yang lebih baik buat si pebisnis muda itu meningkatkan posisinya dalam dunia bisnis.

Lantas bagaimana kemelek-hurufan budaya diterjemahkan ke dalam tindakan seseorang? Untuk menjelaskannya, kita memerlukan 3 konsep lagi dari Bourdieu: ‘medan budaya’ (cultural field), habitus, dan ‘modal budaya’ (cultural capital).

Bourdieu mendefinisikan medan budaya sebagai institusi, nilai, kategori, perjanjian, dan penamaan yang menyusun sebuah hierarki objektif, yang kemudian memproduksi dan memberi “wewenang” pada berbagai bentuk wacana dan aktivitas; dan konflik antarkelompok atau antarindividu yang muncul ketika mereka bertarung untuk menentukan apa yang dianggap sebagai “modal” dan bagaimana ia harus didistribusikan. Yang disebut modal oleh Bourdieu meliputi benda-benda material (yang bisa mempunyai nilai simbolis), prestise, status, otoritas, juga selera dan pola konsumsi.

Kekuasaan yang dimiliki seseorang dalam sebuah ‘medan’ (field), ditentukan oleh posisinya dalam medan itu, yang pada gilirannya akan menentukan besarnya kepemilikan modal. Kekuasaan itu digunakan untuk menentukan hal-hal macam mana yang bisa disebut modal (keaslian modal).

Modal selalu tergantung dan terikat pada medan tertentu, ia bersifat partikular. Dalam medan gaya hidup remaja Indonesia sekarang misalnya, pengenalan akan film dan musik Amerika, kemampuan berbahasa gaul, atau berdandan dengan gaya tertentu, bisa disebut sebagai modal. Bagaimanapun, kemampuan-kemampuan ini, bukanlah modal, misalnya saja, dalam medan pelayanan diplomatik.

Pemahaman seseorang akan modal berlangsung secara tak sadar, karena menurut Bourdieu dengan cara begitulah ia akan berfungsi efektif. Seperangkat pengetahuan, aturan, hukum, dan kategori makna yang ditanamkan secara tak sadar ini oleh Bourdieu disebut habitus. Habitus bersifat abstrak dan hanya muncul berkaitan dengan putusan tindakan: ketika seseorang dihadapkan pada masalah, pilihan atau konteks. Dengan begitu habitus bisa juga dimengerti sebagai ” feel of the game “.

Termuat di Newsletter KUNCI No. 11, Februari 2002.

Alamat halaman ini: http://kunci.or.id/esai/nws/11/medan.htm

Ditulis dalam Budaya | Leave a Comment »

Glokalisasi

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Mei 13, 2008

Oleh M. SHOLAHUDDIN

Ide globalisasi ditemukan dalam jurnal-jurnal bisnis pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Ide ini diyakini akan membawa manusia berada pada era di mana kehidupan sosial ditentukan oleh proses global, zaman di mana garis-garis batas budaya nasional, ekonomi nasional dan wilayah nasional semakin tidak ada.

Globalisasi memang sangat erat kaitannya dengan ekonomi internasional, yang memberi pengaruh besar pada kebudayaan dan gaya hidup. Salah satu konsep yang turut berkembang bersama globalisasi adalah glokalisasi.

Sederhananya, glokalisasi adalah penyesuaian produk global dengan karakter pasar (lokal). Jadi, glokalisasi menjadi strategi yang muncul sebagai kritik terhadap konsep perdagangan bebas neoklasik, yang tidak lagi menspesialisasikan sebuah negara dalam satu produk sesuai dengan potensinya. Karena itu para produsen mengkondisikan sebuah negara (pasar) agar berada dalam satu latar belakang sosial-budaya yang sama dengan negara yang lain. Misalnya, Coca-cola atau McDonald menggunakan artis lokal seperti Sheila on 7, Padi, Jamrud dan Krisdayanti sebagai bintang iklan untuk mendekati pasarnya di Indonesia

Di ranah kajian budaya glokalisasi berarti munculnya intepretasi produk-produk global dalam konteks lokal yang dilakukan oleh masyarakat dalam berbagai wilayah budaya. Interpretasi lokal masyarakat tersebut kemudian juga membuka kemungkinan adanya pergesaran makna atas nilai budaya dari satu tempat ke tempat lain. Contoh yang paling gampang adalah, bagaimana restoran siap saji di Amerika atau Eropa masuk dalam golongan restoran junk-food yang dikonsumsi oleh kelas pekerja atau pelajar, di Indonesia hadir sebagai tempat yang elit dan eksklusif. Itu artinya, ada interpretasi dan cara pandang berbeda dari masyarakar Indonesia dan Amerika/Eropa dalam mengkonsumsi makanan siap saji.

Salah satu medium yang digunakan dalam proses glokalisasi adalah bahasa. Bahasa mampu mendekatkan emosi hingga produk global terasa lokal. Sebuah tayangan telenovela Amerika latin yang membuat ibu-ibu Indonesia setia menonton tidak berarti para ibu itu tertarik dengan budaya Amerika Latin. Tetapi sebenarnya sebagian besar telenovela itu mengandalkan konflik keseharian manusia, dari perebutan warisan, perselingkuhan, hingga persaingan bisnis.

Tahun 1996 pemerintah Indonesia pernah mengeluarkan peraturan agar meng-Indonesiakan istilah-istilah asing. Coca-cola, misalnya, harus mengubah slogan Always, menjadi Selalu. Atau film-film berbahasa asing harus didubbing ke dalam bahasa Indonesia. Ini justru mempercepat sosialisasi produk global di pasar Indonesia. McDonald pernah mengeluarkan produk-produk yang nuansa lokalnya sangat kental, misalnya McSatay, McRendang atau Bubur Ayam McD.

Termuat di Newsletter KUNCI No. 11, Februari 2002.

Alamat halaman ini: http://kunci.or.id/esai/nws/11/glokalisasi.htm

Ditulis dalam Budaya | Leave a Comment »