Banyak Mendadak Jutawan, Ada Juga yang Mendadak Mati
Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Oktober 5, 2008
Catatan Perjalanan ke Ladang Emas Bombana (2)
Usai Salat Jumat, saya dan Samir Abdullah meninggalkan Kecamatan Rumbia menuju ke Desa Raurau, Kecamatan Rarowatu, lokasi emas pertama kali ditemukan. Di siang hari, Bombana ternyata sangat panas. Lebih panas dari Kota Makassar.
Laporan: Akbar Hamdan
Karena jarak yang akan ditempuh diperkirakan 40 kilometer, saya pun harus menambah isi bensin sepeda motor saya yang mulai menipis. Namun saya terkejut karena satu-satunya SPBU di Bombana tutup. Bensin eceran memang banyak dijual. Namun harganya lumayan mahal, Rp10.000 per botol. Itu pun isinya kemungkinan tidak genap satu liter.
Di belakang saya, sejumlah pendulang sudah antri mengisi tangki bensin motornya. Tapi mereka tidak mengeluhkan sama sekali mahalnya harga bensin itu.
Dari perbincangan di tempat penjualan bensin eceran itu, saya sempat mendengar beberapa pendulang akan menuju ke Wububangka. Di sana, juga ditemukan emas.
“Tidak lama setelah emas ditemukan di Sungai Tahi Ite, ada juga menemukan emas di Wububangka. Banyak yang ke sana karena tempat pendulangan emas di Tahi Ite sudah dipenuhi pendulang,” jelas Samir Abdullah.
Mulanya saya sempat bingung apakah akan ke Desa Raurau atau Wububangka. Pasalnya, jarak ke Wububangka lebih dekat. Tetapi karena pertimbangan wilayah Raurau yang lebih luas, saya pun akhirnya memutuskan ke sana.
Perjalanan ke Desa Raurau memakan waktu lebih satu jam. Untuk jarak 40 km, seharusnya bisa ditempuh selama satu jam. Namun beberapa bagian jalan ke desa ini juga rusak sehingga pengendara harus pelan-pelan.
Iring-iringan kendaraan para pendulang seakan tidak terputus. Ada yang menuju ke Raurau, tapi lebih banyak yang terlihat datang dari sana.
Saya pun tiba di Desa Raurau. Sekilas, desa ini terlihat subur. Di pinggir jalan berdiri pebukitan yang berisi pohon-pohon besar. Pada jalan masuk menuju Sungai Tahi Ite, ternyata sudah dijaga oleh aparat Satpol PP. Di gerbang jalan masuk, juga dipajang spanduk yang berisikan larangan masuk ke wilayah tambang emas. Bentuk spanduknya sama dengan yang dipasang di Gerbang PPA. Hanya saja, di sini tidak ada sweaping alat dulang. Yang ingin masuk, cukup meninggalkan kartu identitasnya kepada petugas. Petugasnya pun cukup ramah.
Mencapai lokasi tambang emas dari jalan masuk tidak cukup sulit. Sebab sebelum lokasi tambang terdapat pemukiman transmigran. Sudah terbentuk jalan untuk kendaraan roda empat meski masih dari tanah dan bebatuan. Pemukiman transmigran terbagi menjadi beberapa Satuan Pemukiman (SP).
Pemandangan alam di SP ini jauh berbeda dengan di sekitar pinggiran jalan tadi. Pebukitannya tandus. Kebanyakan hanya ditumbuhi ilalang. Tapi tak pernah ada yang menyangka, di daerah tandus inilah emas itu bersemayam. Luasnya, ratusan bahkan mungkin ribuan hektar. Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanya hamparan pebukitan tandus.
Penemuan emas itu jelas menjadi berkah yang tak terkira bagi para transmigran yang selalu diidentikkan dengan hidup kekurangan. Saat memperoleh lahan masing-masing satu hektar, para transmigran memanfaatkannya untuk bercocok tanam. Tapi sayangnya, lahan itu kurang subur. Namun kini, terungkap fakta bahwa tidak suburnya tanah itu karena mengandung banyak logam mulia, emas.
Ayah Haris, salah satu transmigran yang bermukim SP 2 boleh dikata tinggal mewujudkan impiannya. Ayah Haris mengatakan telah memperoleh puluhan gram emas saat mendulang di sungai yang terdapat di dekat rumahnya.
“Tapi sekarang saya berhenti mendulang dulu. Soalnya kaki saya dimakan air,” katanya.
Menurut Haris, tak mendulang pun, para transmigran pemilik lahan sebenarnya sudah bisa memperoleh emas hanya dengan ongkang-ongkang kaki di rumahnya. Sebab ada perjanjian yang mereka buat dengan para pendulang pendatang, di mana setiap 5 gram emas yang diperoleh oleh pendulang pendatang, 2 gram diserahkan kepada pemilik lahan.
“Tetangga saya rata-rata sudah punya ratusan gram emas. Dan mereka tidak perlu capek-capek mendulang di sungai,” kata Haris yang menjadi kepala dusun di SP 2.
Menurut Haris, kebanyakan transmigran menjual emasnya kepada para pembeli emas seharga Rp150.000 per gram. Para pembeli emas ini memang banyak ditemukan di sekitar lokasi tambang. Jumlahnya mencapai ratusan orang. Bahkan kabarnya, banyak pemilik toko emas di Kota Kendari membawa uang miliaran rupiah ke Raurau untuk membeli butiran-butiran emas yang didapatkan oleh pendulang.
“Ada dulu yang sampai bawa uang Rp2 miliar. Uangnya habis, tapi yang mau menjual emasnya masih banyak,” kata Haris.
Peredaran uang hingga miliaran rupiah di Raurau tampaknya bukan cerita kosong. Beberapa pendulang yang penulis temui di sungai Raurau mengaku rata-rata bisa memperoleh emas sampai 3 gram per hari. Saya bahkan sempat bertemu dengan seorang bocah berumur sekitar delapan tahun bernama Andi yang mengaku telah memperoleh emas 1,5 gram dalam tiga kai mendulang.
“Saya sudah dapat 5 gram emas,” kata Umar Lathief, warga Kolaka Utara yang mengaku baru pertama kali mendulang emas dalam hidupnya.
Di masa awal, diperkirakan ada 20.000 orang mendulang emas. Jika 20.000 pendulang ini rata-rata memperoleh 3 gram emas saja per hari, itu berarti tidak kurang 60 kg emas yang terangkat dari dalam tanah Raurau. Kalau dikalikan lagi dengan harga emas setempat Rp150.000 per gram, itu berarti nilai emas yang diperoleh tiap hari mencapai Rp9.000.000.000. Dan aktivitas penambangan ini diperkirakan sudah berlangsung sebulan lebih.
Boleh dikata, ladang emas ini membuat banyak orang mendadak menjadi jutawan. Yang santer terdengar, sepeda motor di Kabupaten Bombana langsung habis terjual. Bahkan juga di Kota Kendari. Bukan dibeli secara cicil, tapi tunai.
Itu kisah baiknya. Bagian kurang baiknya, tidak sedikit warga yang menderita sakit karena terlalu lama jongkok mendulang. Banyak juga yang terserang penyakit kulit karena terkena air sungai yang sudah tercemar. Sejak didulang, sungai-sungai itu tidak mengalirkan lagi air sebagaimana mestinya. Kubangan bekas mendulang ada di mana-mana. Airnya berwarna cokelat keruh.
Namun bagian terburuk dari kisah penemuan ladang emas ini adanya korban jiwa. Banyak versi mengenai jumlah korban yang tewas. Ada yang bilang 10 orang. Koran-koran lokal melaporkan lima orang. Namun keterangan yang diperoleh penulis dari Wakapolres Bombana AKP Laode Kadiman disebutkan hanya 4 orang.
AKP Laode mengatakan, tiga korban tewas saat membuat rongga di tepian sungai. Sebab sewaktu membuat rongga dalam tanah, mereka tidak menyadari tumpukan material tanah di atas rongga itu akan semakin berat. Dan hukum gaya gravitasi akhirnya membantu tanah itu rubuh dan menewaskan pendulang itu.
Ada juga pendulang tewas karena tertimpa pohon karena pendulang menggali di bagian akar pohon itu. “Satu lagi pendulang tewas karena kecelakaan lalu-lintas di sekitar lokasi tambang,” tandas AKP Laode. (*/bersambung)
sumber:www.fajar.co.id
