Cultural Studies (Kajian Budaya)
Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Mei 13, 2008
Oleh ANTARIKSA
Cultural studies (kajian budaya) memfokuskan diri pada hubungan antara relasi-relasi sosial dengan makna-makna. Berbeda dengan “kritik kebudayaan” yang memandang kebudayaan sebagai bidang seni, estetika, dan nilai-nilai moral/kreatif, kajian budaya berusaha mencari penjelasan perbedaan kebudayaan dan praktek kebudayaan tidak dengan menunjuk nilai-nilai intrinsik dan abadi (how good?), tetapi dengan menunjuk seluruh peta relasi sosial (in whose interest?).
Dengan demikian setiap pemilahan antara masyarakat atau praktek yang “berkebudayaan” dan yang “tidak berkebudayaan”, yang diwarisi dari tradisi elit kritisisme kebudayaan, sekarang dipandang dalam terminologi klas.
Bentuk kajian budaya dipengaruhi secara langsung oleh perlawanan untuk mendekolonialisasikan konsep tersebut dan untuk mengkritisi tendensi yang berusaha mempertahankan aturan-aturan yang mereproduksi kelas dan ketidaksamaan lainnya. Maka kajian budaya membangun sebuah kerangka kerja yang berusaha menempatkan dan menemukan kembali kebudayaan dari kelompok-kelompok yang sampai sekarang dilupakan. Inilah awal diperhatikannya bentuk-bentuk dan sejarah perkembangan kebudayaan kelas pekerja, serta analisis bentuk-bentuk kontemporer kebudayaan populer dan media.
Tidak seperti disiplin akademis tradisional, kajian budaya tidak mempunyai ranah intelektual atau disiplin yang terdefinisi dengan jelas. Ia tumbuh subur pada batas-batas dan pertemuan bermacam wacana yang sudah dilembagakan, terutama dalam susastra, sosiologi, dan sejarah; juga dalam linguistik, semiotik, antropologi, dan psikoanalisa. Bagian dari hasilnya, dan bagian dari pergolakan politik dan intelektual tahun 1960-an (yang ditandai dengan perkembangan yang cepat dan meluasnya strukturalisme, semiotik, marxisme,dan feminisme) kajian budaya memasuki periode perkembangan teoritis yang intensif. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana kebudayaan (produksi sosial makna dan kesadaran) dapat dijelaskan dalam dirinya sendiri dan dalam hubungannya dengan ekonomi (produksi) dan politik (relasi sosial).
Termuat di Newsletter KUNCI No. 1, Juli 1999
Alamat halaman ini: http://kunci.or.id/esai/nws/01/kajian_budaya.htm

lusi berkata
boleh tahu ini sumber/referensinya dari mana ga???
terus mau tanya, kalau kajian budaya berhubungan dengan kekuasaan, bagaimana kajian budaya ini mempengaruhi kekuasaan itu sendiri?kekuasaan yang seperti apa dan bagaimana??
mengapa kajian budaya ini eret hubungannya dengan teori marxisme???bisa dijelaskan relevansinya??
lalu kalo memeng ada unsur marxismenya, bukankah itu sudah tidak relevan dengan saat ini???mengingat marxisme sudah tidak sesuai dengan jaman sekarang, tidak ada lagi gol proletar ….walau kolonialisme msh ada, tetapi sudah ada asosiasi krja dan organisasi2 perlindungan buruh…..(kaitannya dengan politik dan kekuasaan)
trims…sbnrnya ms bnyak yg ingin sy tanyakan…kalo bisa tolong dibalas di mail sy yaw…..
arsyi pamma berkata
Tulisan diatas saya lansir dari situs http://www.kunci.or.id
disana banyak referensi dan wacana relasi pengetahuan dan kekuasaan atau mitos dan kekuasaan. dulu wacana itu pernah saya baca di buku2 michel focoult atau yasraf amir piliang dalam bukunya hiperrealitas kebudayaan.thnks
nyoman wilasa berkata
Mas, Arsyi Pamma yang baik,
saya tertarik memambaca tulisan mas. Saya juga suka dengan pencingan pertanyaan dari pembaca Lusi.Sebenarnya, saya pingin kenalan lebih dekat dengan Mas, terutama biografi. Dengan itu saya ingin tahu kita dan kita bersahabat.Ok
Kalau memang bersedia tlg kirimkan via mail saya.
salam hangat,
nyoman wilasa
(Gianyar-Bali)