Wiji Thukul, Puisi dan Pemberontakan

“Tidak setiap nilai membawa orang pada pemberontakan, namun setiap pemberontakan selalu menyerukan suatu nilai”

(Albert Camus:1973)

 

Hampir di setiap tempat, selalu ada masa saat orang terpaksa berhadapan dengan sistem yang menindas dan seniman ikut terpanggil menentangnya. Jose Rizal, pahlawan rakyat Filipina, yang dieksekusi penjajah Spanyol, juga seorang sastrawan besar. Nikolai Vaptsarov, pemimpin rakyat Bulgaria menentang fasisme, juga penyair yang sangat terkenal di negerinya. Fransisco Borja da Costa, penyair Timor Lorosae, yang mati ditembak tentara Indonesia, sajak-sajaknya telah menjadi lagu rakyat Timor Timur.

Di Indonesia ada Wiji Thukul, namanya dikenal lewat puisi-puisi agitatifnya melawan tirani. Ia juga  bagian dari korban penculikan aktivis dan nasibnya hingga kini tidak diketahui apakah ia masih hidup atau dilenyapkan oleh penguasa Orde Baru? Carut marutnya pemerintahan Orde Baru saat itu, memang merasa terganggu dengan kehadiran sosok Thukul dengan puisinya yang senantiasa menjadi kerikil bagi licinnya langkah-langkah penguasa otoriter. Puisi ternyata bukan hanya bisa mengkomunikasikan perasaan cinta sebagaimana Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta tetapi puisi juga bisa menjadi medium penyampaian rasa benci dan gugatan terhadap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.

Puisi Thukul yang terlampau kritis dan mudah dinalar oleh siapa saja membuat massa terbakar api perlawanan dalam aksi demonstrasi yang kerap ia pimpin di jalan-jalan. “Hanya ada satu kata LAWAN !!!” adalah sepenggal puisinya yang berjudul Peringatan, kalimat itu menjadi populer dan sering dipakai para demonstran dalam orasi dan pentas kesenian, tapi tak sedikit dari mereka tidak tahu kalau kalimat sakti itu milik Thukul, aktivis sekaligus seniman yang hilang (dihilangkan?) pada saat-saat kritis kejatuhan Soeharto, entah tak ada yang tahu pasti tentang keberadaannya hingga kini.

Membanjirnya budaya pop melalui media massa khususnya televisi semakin menjauhkan mental generasi Indonesia terhadap budaya kritis demi memaknai hidup yang lebih dalam. Sebab dalam hegemoni budaya pop terselubung logika pasar, untung rugi, yang mengarah pada kedangkalan hidup. Maka tak heran, kehadiran karya-karya sastra realisme yang bisa merefleksikan kehidupan kita setiap saat malah tidak begitu mendapat respon dalam masyarakat yang terhempas badai konsumerisme. Sastra dan kesenian nyatanya kian terpinggirkan dari kehidupan berbangsa, bangsa yang katanya berbudaya. Rubrik sastra koran dan majalah sudah lama tersisih oleh iklan dan berita ekonomi. Anak sekolah lebih tertarik budaya pop ketimbang bersastra dan berkesenian. Kesusastraan dan kesenian bukan lagi bagian integral dan sosok internalisasi kepribadian anak sekolah kita.

Pada tahun 1840, delapan belas tahun setelah penyair Inggris Percy Bysse Shelley tewas tenggelam di Teluk Spezia, Italia, esainya, The Defence of Poetry, diterbitkan. Sebuah esai berisi pernyataan klasik tentang fungsi puisi untuk menjawab Thomas Love Peacock yang menuduh puisi tak berguna lagi di tengah kemajuan sains. Shelley menarik garis batas nalar dan imajinasi. Ia berkata bahwa puisi bersumber dari imajinasi, fakultas kreatif manusia yang berada di atas nalar-fakultas analitis benda-benda semata (Agung:2003).

Ketika pengetahuan empiris dari pendekatan matematis-mekanis ilmu alam diutamakan, buat Shelley kehadiran puisi lebih mendesak. Tanpa nilai-nilai yang terwujud dalam puisi, pengetahuan semacam itu akan melahirkan eksploitasi terhadap sesama manusia maupun terhadap alam. Sensibilitas berlebih para penyair mengubah segala hal menjadi keindahan tanpa darah dan air mata.

Dulu penyair dipandang sebagai pujangga, penasihat raja. Boleh jadi karena dibanding orang biasa, penyair punya kelebihan, seperti kepekaan sosial, visioner, lebih dulu menangkap apa-apa yang orang biasa belum atau gagal menangkapnya, jujur pada kata hati, bicara apa adanya, dan patuh serta hormat kepada kebenaran hidup.

Puisi adalah petuah, mantra, dan kehidupan sendiri. Puisi itu vitamin batin, kerja otak kanan yang membuat halus sikap hidup insani, yang menjadikan politik dan sikap berpolitik lebih santun dan beradab.

Sudah lama dunia internasional membangun puisi sebagai terapi (The International Association for Poetry Therapy). Banyak klub dan organisasi terapi puisi di dunia. Puisi sebagai obat stres bukan isapan jempol. Puisi menyimpan efek relaksasi (Nadesul: 2002). Dari studi yang sama terungkap efek puisi bukan cuma pada manajemen stres, tetapi juga bisa mencegah penyakit jantung dan gangguan pernapasan. Periset meneliti efek puisi dapat mengendurkan denyut jantung, dan irama napas jadi harmoni.

Penerbitan ulang kumpulan puisi Wiji Thukul Aku Ingin Jadi Peluru oleh Indonesiatera, barangkali sedikit unik. Di tengah riuh reformasi, di mana keran kebebasan ekspresi seni yang terbuka lebar, puisi-puisi Thukul, yang acapkali bernada protes itu, mungkin terkesan biasa. Namun Meski Wiji Thukul menulis sajak itu dengan mengacu pada realitas yang telah jauh di belakang, hingga hari ini sajak tersebut tetap mampu melukiskan potret kekuasaan yang tengah dan masih terjadi.

Demokrasi di negeri ini adalah transisi yang berjalan diantara lorong gelap dan terang. Ia bisa saja menuju demokrasi seutuhnya namun bisa juga semakin menggilas dalam rantai fasisme, militerisme dan otoriter.

Puisi-puisi bernafaskan protes, tentu bukan hanya hadir dalam diri seorang Wiji Thukul. Sejumlah sastrawan ternama juga telah lama muncul dengan corak yang sama. Jauh sebelum Thukul menulis sejumlah puisi yang bernada kecaman, W.S. Rendra, di paruh dekade 70-an sudah menuliskan dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, atau Emha Ainun Nadjib dengan Sesobek Catatan Buat Indonesia. Kegeraman para penyair itu, merupakan saksi abadi, yang membungkus segala ketimpangan sekaligus protes terhadap kondisi sosial-ekonomi dan politik di tengah masyarakat.

Tapi Thukul memang punya warna puitik yang lebih tegas dalam menyuarakan kenyataan keras dan menekan. Ia jauh dari anggapan menara gading;  sebutan bagi intelektual yang berjarak dengan kehidupan nyata, Thukul merasakan langsung, meyuarakan, dan menentang secara vulgar, berbeda dengan sebagian seniman yang bersembunyi dibalik megahnya industri hiburan tanpa menyuarakan sedikitpun makna sebuah perlawanan. Wiji Thukul mengajak anak-anak kampungnya bermain teater, menyanyi dan melukis bersama. Ia ingin mengajar mereka melawan keterbatasan dan kemiskinan dengan mengenalkan mereka pada keindahan seni. Bagi Thukul keindahan ada dimana saja dan melampaui batas-batas kelas.

Di tahun 1991, Thukul meraih prestasi tertinggi di bidang sastra, WERTHEIM ENCOURAGE AWARD (1991) dari Wertheim Stichting di Negeri Belanda bersama WS Rendra. Penghargaan ini dibuat sebagai penghormatan pada sosiolog Belanda Willem Frederik Wertheim, yang anti-kolonialisme dan tak suka pada prilaku pemerintah Soeharto. Wiji Thukul yang nama aslinya Wiji Widodo  juga terpilih sebagai penerima Yap Thiam Hien Award ke-10 di tahun 2002, ia terpilih karena melalui puisi-puisinya mengajak masyarakat yang termarjinalisasi untuk bangun memperjuangkan hak mereka yang asasi, hak yang mereka miliki karena mereka manusia. Puisinya ditulis dengan bahasa yang sederhana, oleh karena itu mudah dipahami oleh orang kebanyakan. Puisinya bening, karena itu dengan mudah kita menangkap nilai yang ingin dikomunikasikannya, yakni nilai-nilai kemanusiaan (Kompas: 2002). Aku Ingin Jadi Peluru adalah kumpulan puisi Wiji Thukul. Baginya nilai estetika dalam pembuatan karya sastra adalah poin yang kesekian kalinya, yang utama adalah pesan kemerdekaan hidup. Sebagaimana penyair lainnya, ia juga tidak pernah memakai kata bulan, bintang, matahari dan alam untuk melukiskan keindahan. Karena Thukul sadar akan ekploitasi manusia dan alam semakin ganas menghempas atas nama modernisasi dan industrialisasi.

Sebagaimana Orde Baru menciptakan kata Pembangunan dan membesar-besarkannya sebagai alat legitimasi/ pembenar mengenai dana pinjaman luar negeri. Maka Thukul pun mereproduksi bahasa perlawanan melalui sastra puisi sebagai counter hegemoni.

Dikutip dari BAB I skripsiku  AKU INGIN JADI PELURU ( Analisis Wacana Terhadap Teks-Teks Puisi Wiji Thukul ). Makassar,Universitas Hasanuddin,2005

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s