]]IndiPress[[

Not For Sale

Refleksi Valentine

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Februari 10, 2009

Hari Valentine datang lagi, momen yang ditunggu-tunggu dan istimewa bagi mereka yang sangat mengapresiasi cinta dan kasih sayang. Valentine sebagai hari raya para lovers.Konon Valentine tidak hanya buat para remaja yang dilanda asmara tetapi hari yang juga bisa dimanfaatkan oleh keluarga antara ayah,ibu dan anaknya untuk bertukar kado sebagai petanda kasih sayang.

Cinta dan kasih sayang valentine secara umum diungkapkan secara simbolik dan materialistis. sekian dari banyak paradigma tentang cinta yang abrasi dan senantiasa mendangkal. menggebu-gebu namun rapuh bila diterpa badai kecemburuan dan egoism. dalam sepenggal puisi Rumi,

“Memang benar layang-layang naik
Dengan melawan arah mata angin,
Tetapi apakah benang yang kau gunakan
cukup kuat untuk mengahadapi hempasan angin,
tamparan badai dan sambaran petir”

Intrepretasi saya terhadap kata ‘benang’ adalah komitmen terhadap cinta yang dibingkai dalam sebuah falsafah. tertata dan kuat sebagai pijakan.

Namun bagaimana wajah cinta hari ini yang dimaknai oleh manusia terutama remaja?

kaum remaja dan belia sangat sedikit yang memahami cinta sebagaimana cinta, tidak lebih dari sekedar obsesi seksual yang diwujudkan dalam aktifitas seksual tanpa status yang syar’i. termanifestasi dengan ledakan-ledakan hasrat yang sesaat dan hampa. Dimotivasi tendensi kepemilikan yang berlebihan sehingga menimbulkan tekanan. Sementara secara fitrawi manusia menginginkan kemerdekaan dalam bertindak dan berprilaku agar bernilai tanggung jawab.

kaum Liberalis seperti Freud, lebih menekankan pelepasan libido seksualitas untuk menghindarkan manusia dari depresi,a-sosial,dan kriminalitas namun kenyataannya kekerasan banyak lahir dari problem cinta yang tak terkendali.

Demikian cinta ditakar dengan berbagai tendensi. Dalam budaya pop, cinta dipolasrisasi dan didefenisikan secara paksa dan sepihak, dan tentu hanya memberi peluang kepada orang-orang berduit untuk jatuh cinta, tidak bagi para miskin proletare.[]

Ditulis dalam Opini | Leave a Comment »

Tinjauan Kebijakan Moneter November 2008

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Desember 9, 2008

Statement Kebijakan Moneter

Perekonomian Indonesia masih terus merasakan rambatan dari krisis finansial global. Melemahnya perekonomian dunia telah mengimbas pada menurunnya kinerja perekonomian Indonesia. Dampaknya lebih dalam dari perkiraan semula. Berbagai indikator makroekonomi domestik mengalami penyesuaian dalam beberapa pekan terakhir. Ekonomi Indonesia sedang menuju keseimbangan barunya. Di sisi inflasi, melambatnya perekonomian dunia tentu menurunkan tekanan inflasi yang berasal dari harga barang internasional. Secara umum, tekanan inflasi di dalam negeri mereda. Meski demikian, Bank Indonesia masih mencermati beberapa risiko tekanan inflasi ke depan yang perlu terus diwaspadai. Menghadapi kondisi tersebut, Bank Indonesia memandang penting untuk menjaga kebijakan moneter yang tepat untuk dapat mencapai keseimbangan antara pencapaian sasaran inflasi dengan kestabilan ekonomi dalam jangka menengah panjang.

Berbagai indikator perekonomian menunjukkan bahwa krisis perekonomian global telah mengalir dan menyebar pada kinerja perekonomian dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mengalami perlambatan. Konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh melambat, sama halnya dengan investasi yang diperkirakan melemah akibat menurunnya permintaan eksternal dan meningkatnya faktor risiko ketidakpastian perekonomian dunia. Pertumbuhan ekspor diperkirakan juga akan melambat sedangkan pertumbuhan impor diperkirakan akan tertahan. Di sisi penawaran, beberapa sektor utama penopang pertumbuhan yakni sektor pertanian dan industri diperkirakan tumbuh lebih rendah dari triwulan sebelumnya. Namun, beberapa sektor seperti sektor pengangkutan dan telekomunikasi, serta sektor listrik, diperkirakan masih akan tumbuh tinggi.

Di tengah berbagai perkembangan tersebut, inflasi tetap menjadi perhatian utama Bank Indonesia. Berbagai kebijakan Bank Indonesia diarahkan untuk mengurangi tekanan inflasi dalam jangka menengah panjang. Inflasi bulan Oktober 2008 tercatat sebesar 11,77% (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya. Penurunan laju inflasi tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya inflasi pada kelompok volatile food dan sumbangan deflasi dari kelompok administered price. Sementara itu, dari sisi fundamental, melambatnya permintaan domestik serta berkurangnya tekanan dari imported inflation menyebabkan tekanan pada inflasi inti cenderung menurun. Meski demikian, Bank Indonesia masih mencermati tekanan inflasi yang berasal dari sisi permintaan serta pertumbuhan kredit perbankan yang masih tinggi. Dengan memperhitungkan berbagai hal yang mengurangi tekanan inflasi dan faktor risiko tersebut, Bank Indonesia masih memperkirakan inflasi IHK pada akhir tahun 2008 akan berada dalam kisaran 11,5% – 12,5%.

Nilai tukar rupiah selama Oktober 2008 mengalami depresiasi. Sentimen global telah mendorong terjadinya perilaku menghindari risiko (risk aversion) oleh para investor asing. Terjadinya krisis global menyebabkan para investor memindahkan portfolionya keluar dari Indonesia. Hal ini memicu terjadinya capital outflow. Meski kondisi fundamental Indonesia masih kondusif, perilaku tersebut menyebabkan nilai tukar Rupiah melemah. Indonesia tidak sendiri dalam hal ini. Pelemahan nilai tular terjadi pada mata uang di kawasan regional, dengan penyebab yang sama, yaitu imbas dari sentimen global. Secara rata-rata, selama bulan Oktober 2008, Rupiah melemah 6,5% atau mencapai level Rp 9.998 per USD. Di pasar saham, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia juga mengalami penurunan yang cukup signifikan sebagai imbas krisis keuangan global. Namun, untuk keseluruhan bulan investor masih mencatat net beli di pasar saham.

Menghadapi prahara krisis global tersebut, kondisi perbankan Indonesia secara umum masih solid. Indikator-indikator utama perbankan menunjukkan ketahanan yang tetap baik dalam menghadapi gejolak pasar keuangan dunia. Kondisi likuiditas perbankan, yang sempat ketat di awal-awal krisis, kini mulai longgar kembali. Berbagai kebijakan yang ditempuh oleh Pemerintah dan Bank Indonesia, seperti pelonggaran GWM, telah memberikan kontribusi pada kelonggaran likuiditas perbankan di pasar keuangan. Hal ini memberi keleluasaan bagi perbankan dalam menjalankan usahanya.

Dengan berbagai perkembangan tersebut, dalam keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) tanggal 6 November 2008, Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada tingkat 9,5%. Selain menggunakan BI Rate, Bank Indonesia juga tetap mengoptimalkan penggunaan seluruh instrumen kebijakan moneter yang tersedia, seperti pelaksanaan Operasi Pasar Terbuka (OPT) dan menjaga stabilitas di pasar uang dan valas. Transmisi kebijakan moneter akan bekerja melalui pergerakan suku bunga yang dikaitkan dengan suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) sebagai sasaran operasional kebijakan moneter.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus mewaspadai timbulnya beberapa risiko global yang dapat mempengaruhi tekanan infasi dan kestabilan makeroekonomi. Untuk itu Bank Indonesia akan terus melakukan koordinasi dengan Pemerintah dalam mencermati perkembangan dan prospek perekonomian global, regional dan domestik untuk mengamankan stabilitas ekonomi jangka menengah.

Ditulis dalam Opini | Leave a Comment »

Lebaran Usai, Linggis dan Sekop Mulai Diangkat

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Oktober 5, 2008

Jumat, 3 Oktober 2008 | 09:43 WIB

BOMBANA, JUMAT - Memasuki H+1 Idul Fitri 1429 Hijriah, pendulang emas dari berbagai daerah mulai berdatangan di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk mendulang emas.

Dari Kasipute, Bombana Jumat dilaporkan, warga dari luar Bombana tersebut datang dengan menggunakan kendaraan roda dua dan membawa berbagai perlengkapan mendulang seperti wajan, linggis dan sekop.

Selain itu, para pendulang juga membawa peralatan lain berupa tenda terpal ukuran 4X6 meter untuk digunakan sebagai tempat tinggal sementara serta bekal makanan seperti mie instan dan beras.

Warga yang berniat mendulang emas di daerah pemekaran dari Kabupaten Buton itu berasal dari Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Muna dan dari provinsi lain di antaranya Manado, Sulawesi Utara serta Kabupaten Sengkang dan Bone, Sulawesi Selatan.

Namun warga yang berdatangan tersebut belum dapat langsung menuju lokasi tambang emas seperti di Sungai Tahi Ite, Desa Rau-rau dan Sungai Wumbubangka, Desa Tembe serta Desa Hukaeya.

Sebab ketiga lokasi tambang emas rakyat itu dijaga ketat oleh aparat keamanan dari TNI dan Polri serta Satpol PP Pemkab Bombana.

Kepala Pengamanan Lokasi Tambang Emas Sungai Tahi Ite, Desa Rau-Rau, Kecamatan Rarowatu, Marzuki mengatakan, warga yang berdatangan tersebut harus mengurus kelengkapan identitas seperti kartu domisili, kartu izin menambang dan memiliki kartu tanda penduduk (KTP) dari Pemkab Bombana.

“Mereka yang mencoba masuk ke lokasi tambang emas tanpa izin akan diusir secara paksa dan hasil penambangannya akan disita,” ujarnya.

Menurut dia, penertiban terhadap warga pendulang emas harus dilakukan untuk menghindari adanya konflik sesama penambang emas.

Pemkab Bombana, kata dia, akan membuka pendaftaran tahap dua yakni pada 7-30 Oktober 2008 agar seluruh warga yang mendulang emas terdaftar dan diketahui pemerintah setempat.

“Petugas tersebut terus memantau di lokasi tambang emas itu, sehingga kalau ada warga yang kedapatan mendulang emas sebelum diberi ijin, akan dikeluarkan secara paksa,” ujar Marzuki.

Sejak ditemukan tambang emas di Sungai Tahi Ite, Sungai Wabubungka dan di Desa Hukaeya di Kabupaten Bombana pada awal bulan September 2008 atau awal bulan Ramadhan 1429 Hijriah, sekitar 20.000-an warga yang datang dari berbagai pelosok nusantara menyerbu lokasi itu untuk mendulang emas.

Warga yang mendulang emas setiap harinya bisa memperoleh sekitar 5-20 gram sementara harga emas yang dijual oleh pendulang di lokasi tambang itu sekitar Rp175.000 – Rp200.000 per gram sedangkan di toko emas Kota Kendari dibeli oleh tukang emas sekitar 220.000-Rp230.000 per gram.

Pada Idul Fitri 1429 Hijriah, lokasi tambang emas rakyat kosong karena selain pendulang pulang merayakan lebaran, petugas pengamanan juga mulai menjaga ketat lokasi tambang tersebut.
ABI
Sumber : Ant/www.kompas.com

Ditulis dalam Hot News | 1 Komentar »

Banyak Mendadak Jutawan, Ada Juga yang Mendadak Mati

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Oktober 5, 2008

Catatan Perjalanan ke Ladang Emas Bombana (2)

Usai Salat Jumat, saya dan Samir Abdullah meninggalkan Kecamatan Rumbia menuju ke Desa Raurau, Kecamatan Rarowatu, lokasi emas pertama kali ditemukan. Di siang hari, Bombana ternyata sangat panas. Lebih panas dari Kota Makassar.

Laporan: Akbar Hamdan

Karena jarak yang akan ditempuh diperkirakan 40 kilometer, saya pun harus menambah isi bensin sepeda motor saya yang mulai menipis. Namun saya terkejut karena satu-satunya SPBU di Bombana tutup. Bensin eceran memang banyak dijual. Namun harganya lumayan mahal, Rp10.000 per botol. Itu pun isinya kemungkinan tidak genap satu liter.

Di belakang saya, sejumlah pendulang sudah antri mengisi tangki bensin motornya. Tapi mereka tidak mengeluhkan sama sekali mahalnya harga bensin itu.

Dari perbincangan di tempat penjualan bensin eceran itu, saya sempat mendengar beberapa pendulang akan menuju ke Wububangka. Di sana, juga ditemukan emas.

“Tidak lama setelah emas ditemukan di Sungai Tahi Ite, ada juga menemukan emas di Wububangka. Banyak yang ke sana karena tempat pendulangan emas di Tahi Ite sudah dipenuhi pendulang,” jelas Samir Abdullah.

Mulanya saya sempat bingung apakah akan ke Desa Raurau atau Wububangka. Pasalnya, jarak ke Wububangka lebih dekat. Tetapi karena pertimbangan wilayah Raurau yang lebih luas, saya pun akhirnya memutuskan ke sana.

Perjalanan ke Desa Raurau memakan waktu lebih satu jam. Untuk jarak 40 km, seharusnya bisa ditempuh selama satu jam. Namun beberapa bagian jalan ke desa ini juga rusak sehingga pengendara harus pelan-pelan.

Iring-iringan kendaraan para pendulang seakan tidak terputus. Ada yang menuju ke Raurau, tapi lebih banyak yang terlihat datang dari sana.

Saya pun tiba di Desa Raurau. Sekilas, desa ini terlihat subur. Di pinggir jalan berdiri pebukitan yang berisi pohon-pohon besar. Pada jalan masuk menuju Sungai Tahi Ite, ternyata sudah dijaga oleh aparat Satpol PP. Di gerbang jalan masuk, juga dipajang spanduk yang berisikan larangan masuk ke wilayah tambang emas. Bentuk spanduknya sama dengan yang dipasang di Gerbang PPA. Hanya saja, di sini tidak ada sweaping alat dulang. Yang ingin masuk, cukup meninggalkan kartu identitasnya kepada petugas. Petugasnya pun cukup ramah.

Mencapai lokasi tambang emas dari jalan masuk tidak cukup sulit. Sebab sebelum lokasi tambang terdapat pemukiman transmigran. Sudah terbentuk jalan untuk kendaraan roda empat meski masih dari tanah dan bebatuan. Pemukiman transmigran terbagi menjadi beberapa Satuan Pemukiman (SP).

Pemandangan alam di SP ini jauh berbeda dengan di sekitar pinggiran jalan tadi. Pebukitannya tandus. Kebanyakan hanya ditumbuhi ilalang. Tapi tak pernah ada yang menyangka, di daerah tandus inilah emas itu bersemayam. Luasnya, ratusan bahkan mungkin ribuan hektar. Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanya hamparan pebukitan tandus.

Penemuan emas itu jelas menjadi berkah yang tak terkira bagi para transmigran yang selalu diidentikkan dengan hidup kekurangan. Saat memperoleh lahan masing-masing satu hektar, para transmigran memanfaatkannya untuk bercocok tanam. Tapi sayangnya, lahan itu kurang subur. Namun kini, terungkap fakta bahwa tidak suburnya tanah itu karena mengandung banyak logam mulia, emas.

Ayah Haris, salah satu transmigran yang bermukim SP 2 boleh dikata tinggal mewujudkan impiannya. Ayah Haris mengatakan telah memperoleh puluhan gram emas saat mendulang di sungai yang terdapat di dekat rumahnya.

“Tapi sekarang saya berhenti mendulang dulu. Soalnya kaki saya dimakan air,” katanya.

Menurut Haris, tak mendulang pun, para transmigran pemilik lahan sebenarnya sudah bisa memperoleh emas hanya dengan ongkang-ongkang kaki di rumahnya. Sebab ada perjanjian yang mereka buat dengan para pendulang pendatang, di mana setiap 5 gram emas yang diperoleh oleh pendulang pendatang, 2 gram diserahkan kepada pemilik lahan.

“Tetangga saya rata-rata sudah punya ratusan gram emas. Dan mereka tidak perlu capek-capek mendulang di sungai,” kata Haris yang menjadi kepala dusun di SP 2.

Menurut Haris, kebanyakan transmigran menjual emasnya kepada para pembeli emas seharga Rp150.000 per gram. Para pembeli emas ini memang banyak ditemukan di sekitar lokasi tambang. Jumlahnya mencapai ratusan orang. Bahkan kabarnya, banyak pemilik toko emas di Kota Kendari membawa uang miliaran rupiah ke Raurau untuk membeli butiran-butiran emas yang didapatkan oleh pendulang.

“Ada dulu yang sampai bawa uang Rp2 miliar. Uangnya habis, tapi yang mau menjual emasnya masih banyak,” kata Haris.

Peredaran uang hingga miliaran rupiah di Raurau tampaknya bukan cerita kosong. Beberapa pendulang yang penulis temui di sungai Raurau mengaku rata-rata bisa memperoleh emas sampai 3 gram per hari. Saya bahkan sempat bertemu dengan seorang bocah berumur sekitar delapan tahun bernama Andi yang mengaku telah memperoleh emas 1,5 gram dalam tiga kai mendulang.

“Saya sudah dapat 5 gram emas,” kata Umar Lathief, warga Kolaka Utara yang mengaku baru pertama kali mendulang emas dalam hidupnya.

Di masa awal, diperkirakan ada 20.000 orang mendulang emas. Jika 20.000 pendulang ini rata-rata memperoleh 3 gram emas saja per hari, itu berarti tidak kurang 60 kg emas yang terangkat dari dalam tanah Raurau. Kalau dikalikan lagi dengan harga emas setempat Rp150.000 per gram, itu berarti nilai emas yang diperoleh tiap hari mencapai Rp9.000.000.000. Dan aktivitas penambangan ini diperkirakan sudah berlangsung sebulan lebih.

Boleh dikata, ladang emas ini membuat banyak orang mendadak menjadi jutawan. Yang santer terdengar, sepeda motor di Kabupaten Bombana langsung habis terjual. Bahkan juga di Kota Kendari. Bukan dibeli secara cicil, tapi tunai.

Itu kisah baiknya. Bagian kurang baiknya, tidak sedikit warga yang menderita sakit karena terlalu lama jongkok mendulang. Banyak juga yang terserang penyakit kulit karena terkena air sungai yang sudah tercemar. Sejak didulang, sungai-sungai itu tidak mengalirkan lagi air sebagaimana mestinya. Kubangan bekas mendulang ada di mana-mana. Airnya berwarna cokelat keruh.

Namun bagian terburuk dari kisah penemuan ladang emas ini adanya korban jiwa. Banyak versi mengenai jumlah korban yang tewas. Ada yang bilang 10 orang. Koran-koran lokal melaporkan lima orang. Namun keterangan yang diperoleh penulis dari Wakapolres Bombana AKP Laode Kadiman disebutkan hanya 4 orang.

AKP Laode mengatakan, tiga korban tewas saat membuat rongga di tepian sungai. Sebab sewaktu membuat rongga dalam tanah, mereka tidak menyadari tumpukan material tanah di atas rongga itu akan semakin berat. Dan hukum gaya gravitasi akhirnya membantu tanah itu rubuh dan menewaskan pendulang itu.

Ada juga pendulang tewas karena tertimpa pohon karena pendulang menggali di bagian akar pohon itu. “Satu lagi pendulang tewas karena kecelakaan lalu-lintas di sekitar lokasi tambang,” tandas AKP Laode. (*/bersambung)

sumber:www.fajar.co.id

Ditulis dalam Hot News | Leave a Comment »

Demam Emas Bombana

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Oktober 5, 2008

Catatan Perjalanan ke Ladang Emas Bombana (1)

HAMPIR sebulan terakhir, Bombana menjadi buah bibir, khususnya di kawasan Timur Indonesia.

Warga dari berbagai daerah, utamanya Sulawesi, Maluku dan Papua, dilaporkan berbondong-bondong menuju Kabupaten Bombana. Itu setelah di Kecamatan Rarowatu, salah satu kecamatan di kabupaten ini, ditemukan daerah persebaran emas.

Laporan: Akbar Hamdan

Menjelang akhir September lalu, penulis mengunjungi Kabupaten Bombana untuk melihat langsung kawasan emas tersebut. Namun belum sampai di Bombana, heboh penemuan tambang emas tersebut sudah terasa. Di pesawat, yang dibicarakan penumpang rata-rata mengenai penemuan emas itu. Begitu pun saat di Bandara Wolter Monginsidi Kendari, menunggu pengambilan bagasi, lagi-lagi pembicaraan tentang emas yang nyaring terdengar.

Keesokan paginya, penulis berangkat dari Kota Kendari menuju Kabupaten Bombana, menggunakan sepeda motor. Selain karena alasan mabuk darat, penulis menggunakan motor atas saran seorang kawan, wartawan salah satu televisi swasta nasional di Kendari. Menurut kawan itu, sejak emas ditemukan di Bombana, tak ada lagi tukang ojek yang beroperasi.

Kata dia, semua tukang ojek lebih memilih mendulang emas. Sementara angkutan umum di Bombana hanya ojek. Dan untuk mencapai lokasi penemuan emas, itu masih ada 40 kilometer jarak yang harus dilalui dari kota Kabupaten Bombana.

Rute Kendari-Bombana lumayan jauh. Jaraknya hampir 170 kilometer. Dengan sepeda motor, perjalanan memakan waktu rata-rata lima jam atau empat jam dengan kendaraan umum. Namun tidak seperti di Sulsel yang bisa melewati beberapa kabupaten dengan jarak sepanjang itu, Kota Kendari dan Kabupaten Bombana ternyata hanya dipisahkan oleh satu kabupaten saja, Kabupaten Konawe Selatan.

Perjalanan dari Kendari ke Bombana lumayan asyik. Itu karena pemandangan alamnya masih asri. Jalannya pun rata-rata lurus dan mulus. Pohon-pohon jambu mete begitu mudah ditemukan di sepanjang pinggir jalan poros. Tanaman padi yang masih berumur dua bulan menebarkan wewangian khasnya.

Namun ada pemandangan lain yang penulis temukan di Konawe Selatan, yang tidak dimiliki daerah-daerah di Sulawesi Selatan. Yaitu pemandangan alam padang rumput savana yang sangat luas dan datar. Jalan poros dari Kendari-Bombana membelah kawasan padang rumput savana dengan panjang jalan sekitar 20 kilometer. Konon, padang savana yang menjadi bagian dari Taman Nasional Rawa Aopa ini dulunya menjadi daerah koloni ratusan ribu rusa sebelum populasinya menyusut drastis akibat perburuan.

Di jalan ini pula, saya mulai menemui iring-iringan pengendara motor. Setiap motor membawa peralatan yang sama, yakni tas pakaian, wajan, sekop, linggis, jeriken, karung yang berisi tanah dan beberapa motor memuat tenda plastik yang di Makassar biasa disebut tenda coto. Tak cuma itu, belasan truk serta mobil pikup juga terlihat memuat barang yang sama.

Dengan barang-barang bawaan itu, mereka jelas bukan sedang mudik. Para pengendara ini kebanyakan datang dari arah Bombana. Saya pun bertanya kepada rombongan pengendara motor yang tengah beristirahat di bawah pepohonan yang terdapat di sela-sela padang rumput savana. Mereka mengaku baru saja meninggalkan kawasan tambang emas Bombana. Dari keterangan mereka, penulis peroleh informasi bahwa Pemerintah Kabupaten Bombana berencana menutup kawasan tambang emas itu.

“Tanggal 27 (September, red), tambang emas itu katanya mau ditutup. Kita disuruh pergi. Tapi kita akan datang lagi nanti selesai lebaran,” kata Zainal, salah satu pengendara yang mengaku berasal dari Kabupaten Konawe.

Zaenal dan kawan-kawannya tidaklah pergi dengan tangan kosong. Zaenal sendiri mengaku telah memperoleh sekitar 40 gram emas dari hasil mendulang selama sepekan. Dia kemudian memperlihatkan butiran-butiran emas yang dibungkus dalam kantong plastik transparan yang biasanya digunakan untuk membungkus obat-obatan. Rencananya, Zaenal akan menjual emas itu di salah satu toko emas di Kendari.

“Di sana (lokasi tambang, red) ada yang langsung beli emas kita. Tapi harganya hanya Rp 150.000 per gram. Kalau di kota (Kendari, red), masih bisa laku sampai Rp 200.000 per gram,” kata Zaenal.

Beberapa rekan Zaenal juga mengaku telah memperoleh emas dengan jumlah yang bervariasi. Malah salah satu rekan Zaenal berhasil mengumpulkan 78 gram emas. Jika dia berhasil menjual emasnya dengan harga Rp 200.000 per gramnya, itu berarti uang tunai tidak kurang Rp 15.600.000 akan menjadi miliknya.

“Asalkan kita mendulang, pasti dapat emas,” kata Firman, warga Konawe yang mendapatkan 78 gram emas tadi.

Emas yang mereka telah peroleh itu belum terhitung dengan tanah yang telah mereka karungkan. Setiap pengendara rata-rata membawa sekarung tanah. Zaenal dan Firman mengaku tanah yang diambil dari lokasi tambang itu mengandung emas. Mereka akan kembali mendulang tanah itu jika telah sampai di rumahnya masing-masing.

Penulis kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa kilometer di depan, tepatnya di kawasan yang disebut Gerbang PPA, tampak sekelompok polisi dan Satpol PP tengah sibuk memeriksa kendaraan. Seluruh kendaraan yang menuju atau meninggalkan Kabupaten Bombana ditahan di tempat itu. Tampak pula terpajang sebuah spanduk yang intinya pelarangan memasuki kawasan tambang emas sejak tanggal 22 September.

Para polisi ini tidak sedang melakukan sweeping lalu-lintas. Tetapi sweeping alat dulang. Tak satu pun pengendara yang mereka lewatkan, termasuk penulis. Namun setelah penulis memperlihatkan ID Card Fajar, aparat langsung mempersilakan melanjutkan perjalanan ke Bombana.

Salah satu polisi yang minta namanya tidak dipublikasikan menjelaskan bahwa polisi menahan alat mendulang yang dibawa pengendara yang ingin masuk ke Bombana, utamanya wajan, sekop dan linggis. Menurutnya, unsur Muspida Bombana telah sepakat menutup kegiatan aktivitas tambang untuk sementara waktu. Sedangkan mereka yang meninggalkan Bombana, polisi hanya memeriksa senjata tajam yang kemungkinan dibawa oleh pendulang.

Gerbang PPA ini menandakan Kabupaten Bombana sudah sangat dekat. Sayangnya, kondisi jalan selepas Gerbang PPA ini rusak berat. Di sepanjang jalan menuju Bombana, jumlah pengendara motor semakin banyak ditemui. Beberapa pengendara motor di antaranya adalah satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak kecil. Kebanyakan pengendara jalan dengan berkelompok.

Penulis akhirnya sampai di Kecamatan Rumbia, pusat keramaian Kabupaten Bombana. Di Rumbia, jumlah pengendara motor lebih banyak lagi. Mereka banyak berkumpul di tempat-tempat penjualan bensin eceran.

Karena perjalanan yang cukup melelahkan, penulis tidak langsung menuju Desa Raurau, Kecamatan Rarowatu, tempat di mana emas pertama kali ditemukan. Itu juga atas saran Samir Abdullah, salah seorang tokoh masyarakat setempat yang juga Ketua DPD PKPB Bombana. Namun Samir Abdullah berjanji akan menemani penulis ke lokasi tambang emas tersebut keesokan harinya.

Malam harinya penulis manfaatkan untuk keliling Bombana sekaligus mencari informasi lebih banyak lagi mengenai penemuan emas Bombana. Sekilas, Kabupaten Bombana memiliki tiga dimensi alam, lautan, dataran rendah dan dataran tinggi. Kecamatan Rumbia sendiri berada di daerah pinggiran laut.

Seperti kabupaten-kabupaten yang terletak jauh dari kota, Bombana juga sepi di malam hari. Meski masih dalam suasana Ramadan waktu itu, namun masjid yang penulis lewati kebanyakan lengang. Jumlah jemaahnya kurang satu saf.

Menurut Samir Abdullah, kebanyakan warga berada di lokasi tambang. Mereka terus mencari emas meski hari telah gelap. Bahkan, Samir menyebutkan bahwa keramaian Bombana telah berpindah ke lokasi tambang.

“Di sana kendaraan tidak pernah berhenti lalu-lalang. Orang bangun tenda. Mereka makan dan tidur di sana,” kata mantan Camat Lora, Kabupaten Bombana ini.

Dia melanjutkan, di masa awal ditemukannya ladang emas itu, Rumbia yang menjadi kota Kabupaten Bombana bak tak berpenghuni. Ribuan penduduknya berbondong-bondong menuju ke ladang emas itu. Jalanan lengang. Rumah-rumah dikunci. Perkantoran menjadi sepi. Pasar nyaris tak beraktivitas karena sebagian besar pedagang ikut mendulang emas.

Setiap hari, tidak kurang 2000 orang dilaporkan masuk ke Kabupaten Bombana dengan satu tujuan, Desa Raurau. Itu membuat sungai-sungai di Raurau, utamanya Sungai Tahi Ite disesaki para pendulang. Diperkirakan jumlah pendulang mencapai 20.000 orang.
“Kotanya Bombana seperti pindah tempat. Banyak sekali orang di sana,” tuturnya (*/bersambung)

sumber:www.fajar.co.id

Ditulis dalam Hot News | Leave a Comment »

Duka Ibu Pertiwi

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada September 12, 2008

Digenangan darah dan air mata
ibu pertiwi berkuyup duka
orang mengira kita tlah merdeka
sebenarnya penindasan masih bertahta

pertiwi
tanahmu telah dikeruk
hutannmu telah digundul
lautmu telah dicemari

apalagi yang mesti dibanggakan hati
merasa asing dinegri sendiri
namun siapa yang peduli
masa depan kita hanya mimpi

anak harammu hanyalah penjilat
anak harammu hanyalah pendusta

jangan sembunyikan sedihmu
jangan nampakkan senyummu
karna itu membuatku pilu[]

Kolaka, 25 juli 2007

(puisi tercecer)

Dedicated for all kolaka town people

Ditulis dalam Puisi | Leave a Comment »

Mitos Syetan dalam Ramadhan

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada September 9, 2008

Saya sering mendengar bahwa pada bulan ramadhan para syetan dikurung atau diikat, saya percaya…hanya saja waktu kecil imaji saya ttg syetan ya seperti di film-film (suster ngesot) dengan tangan terikat tali. Tentu hari ini saya memaknai lebih dari yang dulu saya bayangkan.

pada dasarnya syetan-syetan itu adalah sifat dan kelakuan buruk kita selama 11 bulan, 1 bulan puasa adalah mode ‘karantina’ menuhankan diri alias proses spriritualisasi, atau tepatnya ‘menghadirkan Tuhan” dalam setiap tarikan nafas kita. hehehe jadi bagi anda yang tidak terbiasa menjadi syetan selama 11 bulan maka anda tidak merasa terikat dan tertekan di bulan ramadhan. itu hanya hasil renungan saya saja, kalau keliru mungkin saya adalah syetannya.hihihhhhiii

Secara kasat kita memang manusia, tapi sifat iri,dengki,destruktif,tamak, atau yang berkonotasi buruk adalah substansi kebinatangan dan syetan. sifat yang inheren dan senantiasa berhadap-hadapan dengan sifat baik manusia. kadangkala ketidakmampuan menafikkan salah-satunya maka terbentuklah sebuah penyakit kejiwaan dalam istilah psikologi yang disebut skizofrenia yang dipahami sebagai kepribadian terbelah.

manusia lalu memilih menjadi manusia atau menjadi syetan tergantung kesadaran akalnya. karena agama tidak di wajibkan bagi mereka yang tidak ada akal (unactual) atau (Gila,masih Anak-anak) sehingga akal dikatakan sangat berperan.

Bersyukurlah kita yang merasa menghargai dan menggunakan akal sehingga masih bisa terlihat manusia di antara manusia.

Ditulis dalam Opini | Leave a Comment »

Journey to Malaysia

Ditulis oleh arsyi pamma di/pada Agustus 29, 2008

Catatan Perjalanan

12/08/2008

17.50 Menuju New International Airport Hasanuddin Makassar

20.40 Take Off menuju Kuala Lumpur

23.55 Arrrived Kuala Lumpur

Tibanya tengah malam terpaksa harus nginap di bandara karena penerbangan ke Penang pada jam 06.50 pagi.

13/08/2008

Pagi sekali setelah check in dan boarding pass

06.55 Take Off dari Kuala lumpur menuju Penang. perjalanan ditempuh selama 45 menit

08.30 menuju Hotel Mutiara Gurney, dijemput oleh Joshua atau dipanggil awai, pemuda hokian yang ramah dan murah senyum.

08.55 Istirahat dan Tidur

13.00 Berangkat ke Adventis Hospital di Burma Road

13.10 registrasi untuk general Check up

13.30 Makan siang di Midland Plasa (thai food)

15.00 pemeriksaan jantung

15.30 Konsultasi bersama Dr.Tan chian Soo

Dokter menyarankan Operasi, Jantung mengalami pembengkakan dan penyumbatan pembuluh. valve buka tutup tanpa kontrol karena jejaringnya sudah putus. jadi harus mengganti valve besi, disamping itu harus metode bypass untuk membuat saluran pembuluh baru dimana pembuluh baru itu akan diambil dibagian tubuh yang lain. Dokter menyarankan untuk didiskusikan dulu kepada keluarga. untuk tahap awal keteter. jadi saya sama bapak pulang ke hotel dulu.

14/08/2008

ke rumah sakit untuk pengambilan sample darah dan kencing. selanjutnya menyelesaikan administrasi dan deposit untuk keteter.

12.10 menuju ruang operasi dan melakukan persiapan

12.30 suster meminta saya menunggu di ruangan tunggu atau saya diperbolehkan pulang karena recovery memakan waktu 6 jam.

19.30 pihak rumah sakit menelpon dan meminta saya datang karena dokter segera ingin menjelaskan hasilnya. 

20.00 saya membawa pulang bapak ke hotel.

21.20 hunting food

————————————————————————————-

Ditulis dalam Opini | Leave a Comment »