Catatan Perjalanan ke Ladang Emas Bombana (1)
HAMPIR sebulan terakhir, Bombana menjadi buah bibir, khususnya di kawasan Timur Indonesia.
Warga dari berbagai daerah, utamanya Sulawesi, Maluku dan Papua, dilaporkan berbondong-bondong menuju Kabupaten Bombana. Itu setelah di Kecamatan Rarowatu, salah satu kecamatan di kabupaten ini, ditemukan daerah persebaran emas.
Laporan: Akbar Hamdan
Menjelang akhir September lalu, penulis mengunjungi Kabupaten Bombana untuk melihat langsung kawasan emas tersebut. Namun belum sampai di Bombana, heboh penemuan tambang emas tersebut sudah terasa. Di pesawat, yang dibicarakan penumpang rata-rata mengenai penemuan emas itu. Begitu pun saat di Bandara Wolter Monginsidi Kendari, menunggu pengambilan bagasi, lagi-lagi pembicaraan tentang emas yang nyaring terdengar.
Keesokan paginya, penulis berangkat dari Kota Kendari menuju Kabupaten Bombana, menggunakan sepeda motor. Selain karena alasan mabuk darat, penulis menggunakan motor atas saran seorang kawan, wartawan salah satu televisi swasta nasional di Kendari. Menurut kawan itu, sejak emas ditemukan di Bombana, tak ada lagi tukang ojek yang beroperasi.
Kata dia, semua tukang ojek lebih memilih mendulang emas. Sementara angkutan umum di Bombana hanya ojek. Dan untuk mencapai lokasi penemuan emas, itu masih ada 40 kilometer jarak yang harus dilalui dari kota Kabupaten Bombana.
Rute Kendari-Bombana lumayan jauh. Jaraknya hampir 170 kilometer. Dengan sepeda motor, perjalanan memakan waktu rata-rata lima jam atau empat jam dengan kendaraan umum. Namun tidak seperti di Sulsel yang bisa melewati beberapa kabupaten dengan jarak sepanjang itu, Kota Kendari dan Kabupaten Bombana ternyata hanya dipisahkan oleh satu kabupaten saja, Kabupaten Konawe Selatan.
Perjalanan dari Kendari ke Bombana lumayan asyik. Itu karena pemandangan alamnya masih asri. Jalannya pun rata-rata lurus dan mulus. Pohon-pohon jambu mete begitu mudah ditemukan di sepanjang pinggir jalan poros. Tanaman padi yang masih berumur dua bulan menebarkan wewangian khasnya.
Namun ada pemandangan lain yang penulis temukan di Konawe Selatan, yang tidak dimiliki daerah-daerah di Sulawesi Selatan. Yaitu pemandangan alam padang rumput savana yang sangat luas dan datar. Jalan poros dari Kendari-Bombana membelah kawasan padang rumput savana dengan panjang jalan sekitar 20 kilometer. Konon, padang savana yang menjadi bagian dari Taman Nasional Rawa Aopa ini dulunya menjadi daerah koloni ratusan ribu rusa sebelum populasinya menyusut drastis akibat perburuan.
Di jalan ini pula, saya mulai menemui iring-iringan pengendara motor. Setiap motor membawa peralatan yang sama, yakni tas pakaian, wajan, sekop, linggis, jeriken, karung yang berisi tanah dan beberapa motor memuat tenda plastik yang di Makassar biasa disebut tenda coto. Tak cuma itu, belasan truk serta mobil pikup juga terlihat memuat barang yang sama.
Dengan barang-barang bawaan itu, mereka jelas bukan sedang mudik. Para pengendara ini kebanyakan datang dari arah Bombana. Saya pun bertanya kepada rombongan pengendara motor yang tengah beristirahat di bawah pepohonan yang terdapat di sela-sela padang rumput savana. Mereka mengaku baru saja meninggalkan kawasan tambang emas Bombana. Dari keterangan mereka, penulis peroleh informasi bahwa Pemerintah Kabupaten Bombana berencana menutup kawasan tambang emas itu.
“Tanggal 27 (September, red), tambang emas itu katanya mau ditutup. Kita disuruh pergi. Tapi kita akan datang lagi nanti selesai lebaran,” kata Zainal, salah satu pengendara yang mengaku berasal dari Kabupaten Konawe.
Zaenal dan kawan-kawannya tidaklah pergi dengan tangan kosong. Zaenal sendiri mengaku telah memperoleh sekitar 40 gram emas dari hasil mendulang selama sepekan. Dia kemudian memperlihatkan butiran-butiran emas yang dibungkus dalam kantong plastik transparan yang biasanya digunakan untuk membungkus obat-obatan. Rencananya, Zaenal akan menjual emas itu di salah satu toko emas di Kendari.
“Di sana (lokasi tambang, red) ada yang langsung beli emas kita. Tapi harganya hanya Rp 150.000 per gram. Kalau di kota (Kendari, red), masih bisa laku sampai Rp 200.000 per gram,” kata Zaenal.
Beberapa rekan Zaenal juga mengaku telah memperoleh emas dengan jumlah yang bervariasi. Malah salah satu rekan Zaenal berhasil mengumpulkan 78 gram emas. Jika dia berhasil menjual emasnya dengan harga Rp 200.000 per gramnya, itu berarti uang tunai tidak kurang Rp 15.600.000 akan menjadi miliknya.
“Asalkan kita mendulang, pasti dapat emas,” kata Firman, warga Konawe yang mendapatkan 78 gram emas tadi.
Emas yang mereka telah peroleh itu belum terhitung dengan tanah yang telah mereka karungkan. Setiap pengendara rata-rata membawa sekarung tanah. Zaenal dan Firman mengaku tanah yang diambil dari lokasi tambang itu mengandung emas. Mereka akan kembali mendulang tanah itu jika telah sampai di rumahnya masing-masing.
Penulis kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa kilometer di depan, tepatnya di kawasan yang disebut Gerbang PPA, tampak sekelompok polisi dan Satpol PP tengah sibuk memeriksa kendaraan. Seluruh kendaraan yang menuju atau meninggalkan Kabupaten Bombana ditahan di tempat itu. Tampak pula terpajang sebuah spanduk yang intinya pelarangan memasuki kawasan tambang emas sejak tanggal 22 September.
Para polisi ini tidak sedang melakukan sweeping lalu-lintas. Tetapi sweeping alat dulang. Tak satu pun pengendara yang mereka lewatkan, termasuk penulis. Namun setelah penulis memperlihatkan ID Card Fajar, aparat langsung mempersilakan melanjutkan perjalanan ke Bombana.
Salah satu polisi yang minta namanya tidak dipublikasikan menjelaskan bahwa polisi menahan alat mendulang yang dibawa pengendara yang ingin masuk ke Bombana, utamanya wajan, sekop dan linggis. Menurutnya, unsur Muspida Bombana telah sepakat menutup kegiatan aktivitas tambang untuk sementara waktu. Sedangkan mereka yang meninggalkan Bombana, polisi hanya memeriksa senjata tajam yang kemungkinan dibawa oleh pendulang.
Gerbang PPA ini menandakan Kabupaten Bombana sudah sangat dekat. Sayangnya, kondisi jalan selepas Gerbang PPA ini rusak berat. Di sepanjang jalan menuju Bombana, jumlah pengendara motor semakin banyak ditemui. Beberapa pengendara motor di antaranya adalah satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak kecil. Kebanyakan pengendara jalan dengan berkelompok.
Penulis akhirnya sampai di Kecamatan Rumbia, pusat keramaian Kabupaten Bombana. Di Rumbia, jumlah pengendara motor lebih banyak lagi. Mereka banyak berkumpul di tempat-tempat penjualan bensin eceran.
Karena perjalanan yang cukup melelahkan, penulis tidak langsung menuju Desa Raurau, Kecamatan Rarowatu, tempat di mana emas pertama kali ditemukan. Itu juga atas saran Samir Abdullah, salah seorang tokoh masyarakat setempat yang juga Ketua DPD PKPB Bombana. Namun Samir Abdullah berjanji akan menemani penulis ke lokasi tambang emas tersebut keesokan harinya.
Malam harinya penulis manfaatkan untuk keliling Bombana sekaligus mencari informasi lebih banyak lagi mengenai penemuan emas Bombana. Sekilas, Kabupaten Bombana memiliki tiga dimensi alam, lautan, dataran rendah dan dataran tinggi. Kecamatan Rumbia sendiri berada di daerah pinggiran laut.
Seperti kabupaten-kabupaten yang terletak jauh dari kota, Bombana juga sepi di malam hari. Meski masih dalam suasana Ramadan waktu itu, namun masjid yang penulis lewati kebanyakan lengang. Jumlah jemaahnya kurang satu saf.
Menurut Samir Abdullah, kebanyakan warga berada di lokasi tambang. Mereka terus mencari emas meski hari telah gelap. Bahkan, Samir menyebutkan bahwa keramaian Bombana telah berpindah ke lokasi tambang.
“Di sana kendaraan tidak pernah berhenti lalu-lalang. Orang bangun tenda. Mereka makan dan tidur di sana,” kata mantan Camat Lora, Kabupaten Bombana ini.
Dia melanjutkan, di masa awal ditemukannya ladang emas itu, Rumbia yang menjadi kota Kabupaten Bombana bak tak berpenghuni. Ribuan penduduknya berbondong-bondong menuju ke ladang emas itu. Jalanan lengang. Rumah-rumah dikunci. Perkantoran menjadi sepi. Pasar nyaris tak beraktivitas karena sebagian besar pedagang ikut mendulang emas.
Setiap hari, tidak kurang 2000 orang dilaporkan masuk ke Kabupaten Bombana dengan satu tujuan, Desa Raurau. Itu membuat sungai-sungai di Raurau, utamanya Sungai Tahi Ite disesaki para pendulang. Diperkirakan jumlah pendulang mencapai 20.000 orang.
“Kotanya Bombana seperti pindah tempat. Banyak sekali orang di sana,” tuturnya (*/bersambung)
sumber:www.fajar.co.id